Prof Dr Achmad Mochtar Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional atas Jasa dan Pengorbanannya

Smallest Font
Largest Font

Prof Dr Achmad Mochtar diusulkan menjadi Pahlawan Nasional karena jasanya dalam perkembangan ilmu kedokteran Indonesia dan pengorbanannya saat masa pendudukan Jepang, sebagaimana dilansir dari Detik Health dalam Seminar Pengusulan Gelar Pahlawan yang digelar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada 4 Agustus 2026.

Seminar tersebut dihadiri oleh akademisi, sejarawan, dan pemerintah yang membahas kiprah serta pengorbanan Achmad Mochtar. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyambut baik inisiatif pengusulan ini dan menilai perjuangan Achmad Mochtar sebagai teladan keberanian dan integritas di masa sulit.

"Jasa-jasa dan pengorbanan Prof Dr Ahmad Mochtar luar biasa. Beliau berani mempertahankan sikap, mempertahankan integritas meskipun harus membayar dengan pengorbanan. Perjuangannya memberikan banyak inspirasi," ujar Fadli Zon.

Fadli juga menilai bahwa nama Achmad Mochtar belum dikenal luas oleh masyarakat Indonesia, padahal pengabdiannya di bidang ilmu pengetahuan dan kesehatan sangat layak mendapat pengakuan lebih.

"Saya sangat senang dengan inisiatif para ilmuwan dan sejarawan untuk mengusulkan Prof Dr Ahmad Mochtar sebagai Pahlawan Nasional. Rekognisi memang bisa datang kapan saja, tetapi beliau sudah terlalu lama kurang dikenal oleh masyarakat kita," tambah Fadli. Pemerintah mendukung proses ini dengan mengikuti mekanisme yang berlaku hingga keputusan Presiden nanti.

Prof Sangkot Marzuki, akademisi dari Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia dan mantan Direktur Lembaga Eijkman, menyatakan bahwa Achmad Mochtar merupakan pelopor dokter ilmuwan di Indonesia yang aktif dalam pelayanan kesehatan dan penelitian ilmiah.

"Mokhtar bersama Sardjito dan Cipto adalah lulusan STOVIA yang menjadi dokter ilmuwan. Mereka bukan dokter klinik ataupun dokter praktisi. Daftar publikasi ilmiah ketiganya menunjukkan mereka sangat produktif sebagai dokter ilmuwan," kata Sangkot.

Ia menambahkan bahwa pendidikan kedokteran pada masa Hindia Belanda menjadi fondasi penting bagi perkembangan riset kesehatan di Indonesia.

Karier Achmad Mochtar mengalami perubahan saat kasus vaksin tetanus tahun 1945 menewaskan ratusan romusha. Sebagai pimpinan Lembaga Eijkman, ia dituduh bertanggung jawab, kemudian ditangkap, disiksa, dan dijatuhi hukuman mati oleh polisi militer Jepang. Penelitian kemudian menunjukkan tuduhan tersebut diduga tidak berdasar.

Dr Salahuddin Yahya dari Kementerian Sosial menjelaskan bahwa kepahlawanan tidak hanya muncul dari medan perang, tetapi juga dari bidang ilmu pengetahuan, kesehatan, pendidikan, dan kemanusiaan yang membutuhkan keberanian dan integritas.

"Ilmu pengetahuan, kesehatan, pendidikan, dan kemanusiaan dapat menjadi medan perjuangan ketika di dalamnya terdapat keberanian, pengorbanan, integritas, serta manfaat besar bagi bangsa," ujar Salahuddin.

Menurutnya, pengusulan gelar Pahlawan Nasional menilai sejauh mana perjuangan dan pengabdian memberikan dampak bagi bangsa, bukan sekadar profesi seseorang.

"Tugas kita bukan sekadar menyatakan Prof Dr Ahmad Mochtar adalah tokoh yang berjasa. Tugas kita lebih mendalam, menjelaskan bentuk perjuangannya, menguji keteladanannya, memperlihatkan jangkauan pengabdiannya, dan menyusun bukti yang dapat dipertanggungjawabkan," tambah Salahuddin.

Penelitian terbaru dari sejarawan Jepang Prof. Aiko Kurasawa yang menelusuri arsip militer Jepang selama hampir 40 tahun menunjukkan bahwa Achmad Mochtar tidak bersalah dalam kasus vaksin tetanus. Temuan ini memperkuat kajian ilmiah bahwa tuduhan sabotase tidak didukung bukti kuat.

Temuan sejarah dan ilmiah tersebut menjadi dasar penting pengusulan Achmad Mochtar sebagai Pahlawan Nasional. Jika disetujui, Achmad Mochtar akan dikenang sebagai ilmuwan dan pejuang kemanusiaan yang memberikan kontribusi besar bagi kesehatan Indonesia.

Disclaimer

This article was automatically rewritten by AI based on source: health.detik.com without altering the facts of the original article.
Follow pdamtirtasukapura.co.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed