Roket SpaceX Menabrak Bulan dengan Dampak Kawah Baru
Roket SpaceX menabrak permukaan Bulan dengan kecepatan lebih dari 5.000 mil per jam pada Rabu dini hari waktu Eastern Time (ET), dengan dampak yang terdeteksi oleh teleskop Very Large Telescope di Observatorium Paranal, Cile, dilansir dari Detikcom.
Tabrakan terjadi sekitar pukul 02.35 pagi waktu ET di dekat Kawah Einstein di Bulan. Menurut Carl Schmidt, asisten profesor riset astronomi di Boston University yang memimpin pengamatan, semburan gas natrium dan litium mencapai puluhan kilometer dan menjadi unsur paling terlihat dari tumbukan ini.
Dr. Bárbara Ferreira, Manajer Media Departemen Komunikasi ESO, menyatakan teleskop mendeteksi garis spektrum gas natrium dan litium selama 5-10 menit setelah benturan. "Natrium kemungkinan berasal dari tanah bulan, sedangkan litium bisa jadi berasal dari roket itu sendiri," ujar Ferreira.
Roket Falcon 9 yang meluncur pada 15 Januari 2025 membawa dua wahana pendarat bulan komersial. Tahap atas roket ini berfungsi melontarkan wahana ke Bulan dan tetap berada di luar angkasa setelah misi selesai.
Julianna Scheiman, Direktur Program Sains NASA dan Dragon di SpaceX, menjelaskan bahwa untuk misi berenergi tinggi seperti ini, manuver khusus diperlukan agar tahap kedua roket tetap aman sesuai regulasi. "Apa yang terjadi pada dasarnya adalah kombinasi antara aktivitas matahari dan gaya gravitasi yang mengarahkannya ke jalur menuju Bulan," ujar Scheiman.
SpaceX mengonfirmasi tabrakan tersebut melalui media sosial X dan menyatakan bahwa kejadian seperti ini jarang terjadi, tapi memungkinkan menimpa objek di orbit seperti itu. Mereka bekerja sama dengan NASA untuk solusi sampah antariksa yang optimal.
Studi pracetak menyebutkan tabrakan ini tidak membahayakan Bumi, tapi dapat menciptakan kawah berdiameter 20-30 meter di Bulan. Dampak tabrakan sulit diamati dengan mata telanjang dari Bumi karena jarak mencapai 363.104 km.
Para astronom di Amerika mengarahkan teleskop ke Bulan untuk mengamati peristiwa ini dan gambar-gambar terkait akan dirilis kemudian. Ilmuwan memanfaatkan kejadian ini untuk memahami Bulan lebih dalam dan mempersiapkan perlindungan bagi astronot serta infrastruktur masa depan.
NASA berencana memperkuat kehadiran manusia di Bulan melalui program Artemis, namun peningkatan misi ke Bulan membuat pengelolaan sampah antariksa di orbit Bulan menjadi tantangan penting.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow