Rupiah Diprediksi Melemah Terdampak Geopolitik dan Harga Minyak
Rupiah diperkirakan kembali melemah pada perdagangan hari ini setelah dua hari berturut-turut menguat, terdorong oleh ketegangan geopolitik dan kenaikan harga minyak yang memengaruhi pasar keuangan, dilansir dari Bloombergtechnoz.
Pergerakan mata uang di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) melemah 0,12% ke level Rp17.980 per dolar AS. Harga minyak Brent naik 3,83% ke US$82,49 per barel kemarin dan bertambah 1,04% pagi ini menjadi US$83,35 per barel, seiring belum tercapainya kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Mata uang Asia lainnya juga melemah, termasuk ringgit Malaysia yang turun 0,12%, won Korea Selatan 0,1%, yen Jepang 0,06%, dan dolar Singapura 0,02%.
Investor domestik menantikan data cadangan devisa yang akan dirilis Bank Indonesia (BI). Jika cadangan devisa turun, pasar menilai BI melakukan intervensi besar untuk menjaga rupiah, yang dapat berdampak negatif pada aset berdenominasi rupiah.
Namun, jika cadangan devisa naik, tekanan terhadap rupiah diperkirakan lebih terbatas karena menunjukkan devisa cukup untuk kebutuhan impor dan stabilitas pasar keuangan, meskipun tekanan eksternal dari geopolitik tetap tinggi.
Pejabat Sementara Gubernur BI, Destry Damayanti, menyatakan posisi cadangan devisa Indonesia tetap kuat sebesar US$145,6 miliar, setara 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, dan di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Namun, ruang apresiasi rupiah masih terbatas karena kondisi eksternal yang belum pulih sepenuhnya. BPS melaporkan ekspor tumbuh 4,13% sementara impor naik 8,82%, dengan defisit neraca migas melebar hingga US$15,77 miliar, menggerus surplus non-migas US$19,35 miliar dan menyisakan surplus perdagangan nasional hanya US$3,58 miliar.
Kenaikan harga minyak juga memperburuk inflasi impor dan menambah kebutuhan devisa untuk impor migas, yang dapat memperlebar defisit transaksi berjalan dan mengurangi pasokan dolar AS di pasar domestik jika berlangsung lama.
Secara teknikal, rupiah berpotensi melemah dengan target support di Rp17.950 dan Rp17.980 per dolar AS. Jika kedua level tersebut tembus dengan volume besar, rupiah bisa melemah hingga Rp18.100 per dolar AS. Sebaliknya, jika rupiah menguat, resistance berada di kisaran Rp17.900 hingga Rp17.840 per dolar AS.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow