Serangan Kapal di Selat Hormuz Meningkat Saat Negosiasi Perang Mandek
Serangan terhadap kapal di Selat Hormuz meningkat saat negosiasi untuk mengakhiri perang di Timur Tengah menemui kebuntuan dan Amerika Serikat bersiap menerapkan langkah ekonomi baru untuk memaksa Iran menyerah, dilansir dari Bloombergtechnoz.
UK Maritime Trade Operations melaporkan adanya proyektil yang menghantam lambung sebuah kapal pengangkut barang curah dan dua kapal milik Abu Dhabi National Oil Co. diserang saat melintas di Hormuz pada Kamis. Tidak ada korban luka dilaporkan.
Selat Hormuz, yang sebelum perang menjadi jalur seperlima minyak dan gas dunia, menjadi titik krusial dalam negosiasi yang telah berlangsung hampir enam bulan. AS menuntut jalur bebas dipulihkan sementara Iran mempertahankan kendali.
Harga minyak mentah Brent naik hampir 6% pekan ini seiring meredupnya harapan penyelesaian cepat konflik yang mengganggu aliran minyak global. Organisasi Maritim Internasional mencatat 65 insiden kapal di wilayah tersebut hingga 11 Agustus, dengan 17 pelaut tewas.
Presiden Donald Trump menyatakan rencana menekan ekonomi Iran dengan keras, meski konflik berakhir sebelum pemilihan paruh waktu AS pada November.
"Blokade AS terhadap pelabuhan Iran merupakan tembok baja yang memungkinkan kami mengendalikan Hormuz," ujar Trump sambil tertawa, "Sebentar lagi saya akan menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat."
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan pembicaraan teknis dengan Oman tentang rute pelayaran masih berlangsung, namun pembukaan selat bergantung pada pemenuhan persyaratan AS.
"Itu merupakan persoalan terpisah. Hal tersebut bergantung pada pemenuhan persyaratan lain yang harus dipatuhi AS," kata Araghchi melalui Telegram. Ia juga menyebut belum ada keputusan lanjut negosiasi dengan AS.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut akan ada pengumuman langkah ekonomi baru terhadap Iran yang belum pernah terlihat dalam sejarah isolasi ekonomi negara, tanpa merinci lebih lanjut.
Ekonomi Iran terpukul parah dengan kapasitas industri rusak dan ekspor minyak terbatas akibat blokade AS, namun sanksi sebelumnya gagal memaksa perubahan program nuklir atau kendali selat.
AS menghadapi tantangan menerapkan sanksi tanpa memicu sanksi sekunder terhadap pembeli minyak Iran seperti China, yang berpotensi meningkatkan ketidakpastian harga energi global.
Iran menata ulang militernya agar lebih agresif di luar negeri, bersiap menghadapi kemungkinan konflik berkepanjangan, sementara konflik regional meluas dengan bentrokan Israel-Hezbollah dan Hamas, serta serangan kelompok Houthi di Laut Merah, semua didukung Iran.
Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam melaporkan serangan Israel di negaranya yang menewaskan sembilan orang dan melukai 11 lainnya, mengganggu upaya stabilisasi.
Pasukan Pertahanan Israel menyerang infrastruktur Hezbollah di Lebanon selatan sebagai respons dan akan terus beroperasi untuk mengatasi ancaman terhadap warga dan tentara Israel.
"Pihak yang bertanggung jawab menangani struktur militer apa pun di Lebanon sepenuhnya adalah negara Lebanon," kata Salam, menegaskan korban tewas bukan target militer.
Lonjakan kekerasan ini mengancam gencatan senjata yang dimediasi AS antara Israel dan Lebanon, yang mencakup pelucutan senjata Hezbollah dan penarikan pasukan Israel secara bertahap.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow