Perang dan Krisis Ekonomi Dorong Kemiskinan Meluas di Iran
Perang di Iran telah memperparah krisis ekonomi yang sudah berlangsung, berdampak pada jutaan warga yang menghadapi kemiskinan dan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, menurut laporan Detikcom.
Ekonomi Iran diperkirakan mengalami kontraksi 5,4% pada 2026 dengan inflasi mencapai hampir 69%, kata Dana Moneter Internasional (IMF). Bank Dunia memperingatkan tekanan berat akibat konflik, melemahnya perdagangan, dan ketidakpastian berkepanjangan.
Ahmad Alavi, ekonom yang berbasis di Swedia, menyatakan inflasi sudah di atas 40% sebelum perang dan kini mencapai 66%-88%. Kerusakan infrastruktur dan gangguan perdagangan mempercepat anjloknya daya beli masyarakat.
"Sejak perang dimulai tahun lalu, kami semakin miskin setiap hari," kata Mina, seorang ibu rumah tangga Iran, yang kesulitan membeli makanan dasar seperti daging dan ayam.
Harga pangan melonjak drastis: roti dan serealia naik sekitar 140%, daging dan unggas 135%, produk susu lebih dari 116%, dan minyak goreng lebih dari 200%, menurut data resmi.
Alavi menambahkan, banyak keluarga menunda pengobatan dan menabung karena harus mengurangi konsumsi makanan dan kebutuhan pokok lainnya.
Perang mendorong sekitar 4 juta warga Iran jatuh ke jurang kemiskinan, dengan total penduduk miskin lebih dari 40 juta orang.
"Banyak pekerja bergaji tetap dan pensiunan untuk pertama kalinya jatuh di bawah garis kemiskinan karena pendapatan mereka tidak mampu mengimbangi inflasi," ujar Alavi.
Tekanan ekonomi juga dirasakan sektor swasta. Pedagang Morteza mengatakan jalur perdagangan berubah setelah pengiriman melalui Selat Hormuz terhambat, sementara inflasi dan nilai tukar yang tidak stabil membuat bisnis sulit berkembang.
"Ketidakpastian telah menjadi hambatan terbesar. Saya tidak melihat masa depan yang jelas untuk menjalankan bisnis di Iran," kata Morteza.
Meski harga minyak dunia naik, Iran sulit memperoleh keuntungan besar karena sanksi dan pembatasan ekspor, menurut Alavi.
Pemerintah mencoba mengurangi tekanan dengan subsidi dan intervensi pasar, namun langkah tersebut hanya solusi jangka pendek tanpa menyelesaikan masalah struktural.
Ketidakpastian ekonomi membuat banyak perusahaan menunda investasi dan rumah tangga berhati-hati dalam pengeluaran, yang memperlambat pemulihan ekonomi.
Alavi memperkirakan kondisi keuangan keluarga akan terus tertekan meski ketegangan militer mereda, dengan standar hidup diprediksi semakin memburuk jika tren inflasi dan nilai tukar tidak membaik.
"Kami sudah tidak membicarakan masa depan lagi," kata Mina. "Kami hanya berharap masih mampu membayar sewa bulan depan."
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow