Ahmad Alfatih Menjadi Capaska Tingkat Pusat Asal Sumbar Setelah Banjir dan Longsor
Banjir dan longsor besar yang melanda tiga provinsi di Pulau Sumatera, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada November 2025 menyebabkan kerusakan parah dan korban jiwa, terutama di Kabupaten Agam, Sumbar dengan 192 korban jiwa, dilansir dari Detikcom.
Ahmad Alfatih, calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Capaska) tingkat pusat tahun 2026 asal Sumbar, menyaksikan langsung peristiwa tersebut. Ia menempuh pendidikan di SMAN Agam Cendekia, sebuah sekolah berasrama semi militer yang terletak di dekat Danau Maninjau dan bukit.
Longsor dan banjir besar merusak sebagian bangunan sekolah dan asrama. "Jadi ketika malam hari, sungai sudah mulai keruh, dan airnya turun. Sudah tanah semuanya.
Jam 10 malam, sudah mulai turun tanah sebagian. Terus pada saat itu kami panik semuanya," ujar Ahmad Alfatih.
Setelah kejadian, para siswa dipulangkan ke daerah asal hingga pembelajaran tatap muka kembali dilaksanakan. Fatih kembali ke Kabupaten Pasaman dan mengikuti seleksi paskibraka yang awalnya dilakukan oleh senior, namun diprotes sehingga diadakan pemilihan ulang di tingkat sekolah.
"Pas sudah sekolah kembali, itu seleksi sekolah kata teman-teman nggak adil. Jadi harus ada pemilihan ulang. Jadi diteslah dari fisik, mulai dari sekolah," jelas Fatih.
Meski ragu dengan peluangnya karena postur tubuhnya lebih pendek dibanding beberapa teman, Fatih tetap semangat dan mempersiapkan diri dengan berlatih fisik dan belajar untuk Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) serta Tes Intelegensia Umum (TIU) selama tiga bulan di rumah pascabanjir.
"Ketika tiga bulan di rumah itu, Fatih berlatih. Fatih atlet Pasaman. Jadi, latihannya barengan atlet, dan (tes) intelejensinya (TIU) malam-malam, dari jam tujuh sampai jam sepuluh, itu rutin per harinya membahas TWK-TIU," kata Fatih yang juga atlet lempar cakram dan lembing.
Pengalaman mengikuti Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) dan memenangkan juara satu nomor tolak peluru se-Kota Padang menjadi bekal Fatih dalam seleksi paskibraka.
Sejak SMP, Fatih juga aktif dalam Lomba Keterampilan Baris-berbaris (LKBB) dan Pramuka hingga menjadi Pemimpin Regu Utama. "Karena dua itu, setelah lulus SMP, ketika masih SMA, saya punya tujuan. Saya mau ikut seleksi paskibraka," ujarnya.
Fatih menjalani seleksi di tingkat kabupaten, provinsi, dan verifikasi pusat hingga terpilih sebagai salah satu dari 76 calon paskibraka tingkat pusat yang mewakili 38 provinsi pada tahun ini. Seleksi meliputi psikotes, tes fisik, PBB, parade, dan wawasan kebangsaan.
Selama latihan, Calon Paskibraka tidak diperkenankan membawa ponsel dan hanya fokus pada latihan dan pembelajaran kebangsaan. Fatih mengaku latihan intens membuatnya lelah dan jauh dari keluarga, namun ia mengatasi dengan berdoa.
"Kita di sana tidak ada HP, kita cuma fokus belajar dan melatih fisik. Kita maksimalin di sana. Dan teman-teman jangan lupa satu, berdoa sesuai agama masing-masing. Kalau Fatih, Islam, kalau kita lagi stres, kita lagi lelah, depresi, semuanya, kita berdoa, ketika baca Al-Quran itu hati kita tenang," ujar Fatih.
Fatih juga menekankan pentingnya memahami keberagaman budaya antar provinsi yang hadir di tingkat pusat. "Kita di sini harus menyatukan budaya itu sebagai satu kesatuan. Di sana kita akan menyadari bahwa Indonesia ini beragam, Indonesia ini kaya," tambahnya.
Fatih bertekad menggunakan pengalaman sebagai paskibraka untuk mempersiapkan diri mengikuti seleksi masuk Akademi Kepolisian, Akademi Militer, dan pendidikan kedinasan lainnya. "Kita nggak cuma fisik harus kuat, tapi ilmu juga harus ada," ujarnya.
Untuk pelajar yang ingin mengikuti jejaknya, Fatih berpesan agar tetap semangat dan berdoa. "Bagi teman-teman yang di asrama, atau adik-adik yang asrama, tetap semangat, khususnya untuk provinsi Sumatera Barat. Besoknya harus tampil lebih bagus daripada tahun sekarang," tutupnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow