Aida S. Budiman Jelaskan Strategi Stabilkan Nilai Tukar Rupiah di BI

Smallest Font
Largest Font

Calon Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Aida S. Budiman, menjelaskan upaya bank sentral menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal dan kondisi neraca eksternal Indonesia, dalam uji kelayakan bersama Komisi XI DPR RI, Rabu (26/8/2026), di Kompleks Parlemen, Jakarta.

Aida mengungkapkan sejak 2025 hingga kini rupiah mengalami depresiasi, namun BI menjaga agar pergerakan nilai tukar tidak mengalami overshooting, dengan menjaga moving average sekitar 10 persen.

"Apa yang dijaga oleh Bank Indonesia adalah stabilitasnya. Yang dimaksud dengan stabilitas di sini adalah supaya trend-nya itu tidak overshooting, Jadi kami jaga sekitar 10 persenan, moving average-nya, supaya tidak overshooting. Tapi trend daripada pasar itu tidak bisa kita hindari. Apabila pasar itu trend-nya terdepresiasi, yang penting jangan terdepresiasi terlalu tinggi," ujar Aida.

Menurutnya, menjaga stabilitas nilai tukar diperlukan untuk memberikan kepastian bagi pelaku pasar agar nilai tukar dapat menjadi anchor dalam aktivitas ekonomi. Tekanan pada 2026 dipengaruhi ketidakpastian global, termasuk konflik di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak yang memberi tekanan pada current account Indonesia.

Meski begitu, financial account pada kuartal II yang cukup tinggi membantu menjaga kondisi eksternal Indonesia sehingga defisit current account sebesar 3,3 persen tidak memicu kepanikan investor.

"Sekarang malah pelan-pelan nilai tukar tadi sudah mengalami gerakan yang cukup stabil, Rp17.800-Rp17.900, itu Bapak yang kami sebut dengan penjagaan," kata Aida.

Aida menambahkan, pergerakan harga barang juga terkait kondisi inflasi yang diarahkan agar tetap dalam target yang disepakati BI dan Kementerian Keuangan.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar ke depan, BI perlu menghadapi tantangan ekonomi global yang menuju kondisi "higher for longer" dengan tetap menggunakan BI Rate untuk menjaga daya tarik imbal hasil rupiah dan menarik capital inflows.

Namun, Aida menilai kenaikan BI Rate terus menerus dapat menekan perekonomian domestik sehingga BI harus mengurangi trade-off antara menjaga stabilitas rupiah dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Untuk memastikan bagaimana stabilitas nilai tukar, harus ada capital inflows masuk. Tadi capital inflows akan masuk kalau yield-nya bagus, daya tarik, imbal hasilnya, rupiah bagus. Tapi kalau kita naikkan terus BI Rate, tentunya yang akan suffer adalah perekonomian domestik," ujar Aida.

BI telah menaikkan suku bunga sebesar 100 basis poin dan melakukan intervensi serta kenaikan SRBI sebagai bagian dari stabilisasi nilai tukar.

Ke depan, BI akan mengombinasikan kebijakan tersebut dengan open market operation dan pengembangan pasar uang, termasuk memberikan insentif diskon pada instrumen yang dapat menarik capital inflows.

"Sehingga kami muncul dengan bagaimana mengawinkan antara keperluan menjaga stabilitas nilai tukar dengan open market operation dan juga untuk pengembangan pasar uang, dengan mengenalkan diskon untuk instrumen-instrumen capital inflows," ujar Aida.

Dia merinci, swap hedging mendapat diskon 12,5 persen, DNDF diskon 15 persen, dan transaksi local currency transaction diskon 10 persen. BI juga memperluas cakupan dari portfolio inflows ke foreign direct investment (FDI) dan pinjaman luar negeri bank.

"Dan bahkan sekarang kita tidak saja melihat portfolio inflows, bulan Agustus kemarin juga ditambah FDI, kemudian underlying terkait dengan pinjaman luar negeri bank," tutur Aida.

Informasi ini dilansir dari Bloombergtechnoz.

Follow pdamtirtasukapura.co.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow