Rupiah Terkonsolidasi dengan Sentimen Dalam Negeri Kuat pada 27 Agustus 2026

Smallest Font
Largest Font

Pada Kamis, 27 Agustus 2026, rupiah di pasar spot terkonsolidasi dengan kisaran nilai tukar Rp17.710 hingga Rp17.830 per dolar AS, setelah sebelumnya mengalami pelemahan di pasar luar negeri.

Rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) melemah ke Rp17.828/US$ pada pukul 06.39 WIB, turun 0,29% dari pembukaan yang berada di Rp17.779/US$. Volatilitas sedikit mereda setelah pukul 07.00 WIB dan pelemahan menyusut menjadi 0,08% ke Rp17.793/US$ pada pukul 07.30 WIB, dilansir dari Bloombergtechnoz.

Mata uang Asia lain juga mengalami penguatan terbatas, seperti won Korea Selatan naik 0,17%, yen Jepang 0,11%, dolar Singapura 0,06%, dan yuan China 0,03%. Sebaliknya, ringgit Malaysia turun 0,02%.

Meski harga minyak Brent relatif stabil di US$87,84 per barel, indeks dolar AS menguat ke level 99,11, menahan penguatan mata uang di kawasan.

Sentimen dari dalam negeri lebih dominan dibanding tekanan eksternal terhadap rupiah. Hal ini terkait dengan arah kebijakan Bank Indonesia (BI) di bawah kepemimpinan Destry Damayanti yang memaparkan kondisi neraca pembayaran Indonesia perlu mendapat perhatian khusus untuk menahan volatilitas rupiah.

"Tantangan rupiah dalam jangka panjang berasal dari sisi eksternal," ujar Destry Damayanti, Gubernur BI.

Destry menjelaskan peningkatan ekspor menjadi salah satu strategi memperkuat sektor eksternal, mengingat defisit transaksi berjalan Indonesia mencapai US$12,5 miliar atau 3,3% dari Produk Domestik Bruto, naik dari US$3,6 miliar pada kuartal pertama.

Menurut Destry, pergerakan rupiah dipengaruhi oleh kondisi fundamental ekonomi jangka panjang dan sentimen pasar jangka pendek.

"Saya ingin menengaskan bahwa sinergi bukan berarti mengurangi kredibilitas dan independensi BI dalam menjalankan tugasnya. Kami akan tetap menjunjung tinggi independensi sebagaimana diatur dalam undang-undang," tambahnya.

Pernyataan ini meredakan kekhawatiran investor terhadap intervensi pemerintah dalam kebijakan BI setelah mundurnya mantan Gubernur Perry Warjiyo.

Pasar membaca adanya sinyal bahwa kebijakan moneter akan mencari keseimbangan antara menjaga stabilitas rupiah dan memberikan ruang pertumbuhan ekonomi.

Hari ini, sejumlah kelompok masyarakat dan mahasiswa merencanakan aksi demonstrasi di kawasan Gedung DPR/MPR RI dengan tuntutan beragam, termasuk pengesahan RUU Perampasan Aset dan penerapan hukuman mati bagi pelaku korupsi.

Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM) membawa isu pengawasan fungsi legislasi, anggaran, serta kebijakan politik dan ekonomi.

Kondisi keamanan dan aksi massa menjadi perhatian investor karena potensi eskalasi bisa memicu sentimen risk-off di pasar domestik.

Kekhawatiran ini sudah terlihat pada pasar obligasi, dengan kenaikan yield pada hampir semua tenor, terutama tenor pendek dan menengah. Yield tenor 10 tahun naik 3,9 bps ke 7,05%, tenor 1 tahun naik 5,9 bps ke 6,74%, dan tenor 5 tahun naik 3,3 bps ke 6,89%.

Jika aksi massa berlangsung kondusif dan pemerintah merespons tuntutan dengan baik, sentimen pasar dan kepercayaan investor dapat terjaga sehingga rupiah berpotensi mempertahankan kisaran Rp17.740 hingga Rp17.850 per dolar AS.

Dari sisi teknikal, rupiah menghadapi potensi pelemahan dengan support pertama di Rp17.740/US$ dan support kedua di Rp17.790/US$. Jika kedua level ini ditembus, rupiah bisa melemah menuju Rp17.850/US$ sebagai support terkuat.

Namun, jika rupiah menguat, resistance berada di kisaran Rp17.700/US$ dan Rp17.650/US$. Potensi penguatan masih ada dengan resistance potensial di level Rp17.600/US$, meskipun peluangnya terbatas saat ini.

Follow pdamtirtasukapura.co.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed