Camino de Santiago dan Camino Flores Menjadi Jalur Ziarah Spiritual Bersejarah
Camino de Santiago de Compostela merupakan salah satu jalur ziarah Katolik paling terkenal yang telah dilalui umat Kristiani selama lebih dari seribu tahun. Jalur ini berakhir di Katedral Santiago de Compostela, Galicia, Spanyol, yang dipercaya sebagai makam Santo Yakobus Rasul.
Perjalanan spiritual ini dimulai sejak zaman Medieval sebagai bentuk penguatan keyakinan rohani bagi para peziarah. Simbol khas dari jalur ini adalah cangkang kerang Galicia yang dibawa sebagai tanda telah menempuh perjalanan.
Sepanjang rute, peziarah singgah di berbagai titik seperti katedral, biara, dan restoran untuk memperoleh stempel sebagai bukti perjalanan mereka. UNESCO mengakui Camino de Santiago sebagai Warisan Dunia karena nilai spiritual sekaligus kontribusinya dalam pelestarian budaya, penguatan identitas masyarakat, dan pemerataan manfaat ekonomi lokal.
Ada beberapa jalur yang bisa dipilih oleh para peziarah. Jalur tertua adalah Camino Primitivo yang dimulai dari Oviedo dan berjarak 320 kilometer hingga Santiago de Compostela.
Camino Frances, jalur terpanjang dengan jarak 800 kilometer, berawal dari Roncesvalles di Prancis. Sedangkan Camino Portugues yang populer kedua berawal dari Lisbon, Portugal dengan jarak 610 kilometer.
Jalur Camino del Norte mengikuti pesisir utara Spanyol sepanjang 817 kilometer dari Irun hingga Santiago.
Pada tahun 2025, tercatat sekitar 500 ribu peziarah mengikuti perjalanan ziarah ini, menjadikannya jalur ziarah terpopuler di dunia, dilansir dari Detik Travel.
Pengembangan Jalur Ziarah Camino Flores di Indonesia
Di Indonesia, khususnya di Pulau Flores, jalur ziarah Camino Flores tengah dikembangkan sebagai destinasi wisata religi. Rute ini menghubungkan berbagai situs religi dan sejarah misionaris di pulau tersebut.
Camino Flores menghadirkan pengalaman ziarah yang menggabungkan kegiatan keagamaan, interaksi dengan masyarakat lokal, dan eksplorasi budaya, kuliner, UMKM, serta atraksi alam setempat. Peziarah juga diajak berpartisipasi dalam kegiatan sosial di sepanjang rute.
Jalur ini dibagi menjadi tiga etape: Etape Barat meliputi Manggarai Barat, Manggarai, dan Manggarai Timur; Etape Tengah mencakup Bajawa, Nagekeo, dan Ende; serta Etape Timur yang meliputi Maumere dan Flores Timur. Masing-masing etape memiliki jarak tempuh sekitar 70 kilometer.
Andhy Marpaung, Direktur Utama BPOLBF, mengatakan bahwa potensi situs religi, tradisi iman Katolik, budaya lokal, dan bentang alam di Flores sangat relevan untuk dikembangkan menjadi jalur ziarah berkelas dunia.
Pengembangan Camino Flores diharapkan memperkaya produk wisata minat khusus sekaligus memperkuat posisi Flores sebagai destinasi spiritual yang berkelanjutan dan kompetitif.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow