Dokter Minta Pengelola Wisata Perkuat Peringatan Bahaya di Pantai Semeti

Smallest Font
Largest Font

Dokter gawat darurat meminta pengelola destinasi wisata memperkuat peringatan di lokasi berisiko setelah empat wisatawan terseret ombak di Pantai Semeti, Lombok, yang mengakibatkan satu orang meninggal dunia, dilansir dari Detik Travel.

Tiga wisatawan lainnya berhasil diselamatkan dalam insiden tersebut yang menjadi bagian dari sejumlah kasus serupa di berbagai destinasi wisata alam di Indonesia.

Dr. dr. Tri Maharani, spesialis gawat darurat dan toksinologi dari RS Permata Depok, menilai kecelakaan ini seharusnya menjadi evaluasi bagi pengelola destinasi wisata, terutama dalam menyediakan papan peringatan bahaya.

"Tempat-tempat wisata seperti itu seharusnya diberi papan peringatan bahwa lokasi tersebut berbahaya untuk berfoto," ujar Tri Maharani.

Tri Maharani juga menyoroti minimnya sistem keselamatan di banyak destinasi alam, mulai dari papan informasi, petugas penyelamat (lifeguard), hingga prosedur penanganan kecelakaan.

Menurutnya, wisatawan sering tidak mengetahui risiko di lokasi, sementara informasi di lapangan juga masih kurang. Ia menyebut pantai dengan ombak besar dan tebing curam yang tetap jadi lokasi favorit untuk berswafoto seharusnya dilengkapi penanda jelas.

"Harus ada lokasi pengumuman atau peringatan bahwa tempat itu berbahaya untuk foto," tambahnya.

Selain papan peringatan, keberadaan lifeguard yang terlatih sangat penting untuk mengurangi korban jiwa. Namun, tidak semua pantai memiliki petugas penyelamat yang mampu bertindak di kondisi ombak besar.

"Lifeguard-nya harus mampu. Bagaimana dia bisa menolong orang kalau menghadapi kondisi seperti itu?" ujar Tri Maharani.

Dia mengungkapkan pernah melihat langsung kondisi sejumlah destinasi yang belum memiliki petugas penyelamat dengan jumlah dan kompetensi memadai, sehingga proses pertolongan sering terlambat saat kecelakaan terjadi.

Tri Maharani mengenang pengalaman saat kuliah di Malang, di mana dua mahasiswa terseret ombak dan seorang warga yang mencoba menolong kehilangan nyawa karena tidak ada lifeguard.

"Karena tidak ada lifeguard," katanya.

Menurut dia, keberadaan petugas penyelamat yang siap dengan keterampilan dan peralatan memadai sangat menentukan peluang korban selamat.

Tri Maharani menegaskan keselamatan wisata harus menjadi bagian dari pengelolaan destinasi, tidak cukup hanya mengandalkan imbauan kepada wisatawan.

"Pengelola destinasi juga memiliki tanggung jawab menyediakan sistem perlindungan, mulai dari papan informasi, petugas penyelamat, jalur evakuasi, hingga akses layanan kesehatan," ujarnya.

Dia melihat langkah tersebut sebagai investasi yang dapat meningkatkan kepercayaan wisatawan pada destinasi wisata Indonesia.

"Orang datang ke tempat wisata ingin pulang dengan selamat. Itu yang harus menjadi prioritas," tambah Tri Maharani.

Selain itu, dia mengingatkan wisatawan untuk tidak mengorbankan nyawa demi konten foto atau video di media sosial.

"Kalau memang suatu tempat dinyatakan berbahaya, jangan dipaksakan hanya untuk berfoto. Keselamatan harus selalu menjadi yang utama," kata Tri Maharani.

Follow pdamtirtasukapura.co.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed