Pemerintah Fokus Kembangkan STEM, Guru Besar Humaniora Serukan Sinergi

Smallest Font
Largest Font

Pemerintah di era Presiden Prabowo Subianto memberikan prioritas tinggi pada pengembangan bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) sebagai bagian dari kebijakan pendidikan nasional. Beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) kini lebih diarahkan ke program studi STEM, sementara pembangunan 10 kampus Universitas Republik Indonesia (URI) juga menitikberatkan pada sains dan teknologi. Selain pendidikan tinggi, pemerintah juga mewajibkan pembelajaran coding dan kecerdasan buatan (AI) mulai tahun 2027 untuk tingkat sekolah dasar dan menengah.

Dalam konteks ini, muncul pertanyaan mengenai peran ilmu humaniora yang memiliki karakter konseptual dan tidak termasuk praktik pragmatis seperti STEM.

Prof Muhammad Luthfi Zuhdi, Guru Besar Ilmu Susastra FIB UI, menilai ilmu humaniora memiliki dasar konsep yang penting meskipun pengembangannya terkesan tertinggal dibanding ilmu lain. Ketua Dewan Guru Besar FIB UI, Prof Agus Aris Munandar, mengingatkan posisi fundamental humaniora sebagai induk keilmuan yang mendasari berbagai disiplin ilmu di dunia.

Prof Manneke Budiman menyoroti tantangan kebijakan yang dominan STEM dan menekankan perlunya arah kebijakan yang jelas untuk mengembangkan ilmu humaniora di Indonesia. Menurut Manneke, kekayaan budaya nasional adalah modal besar dalam penguatan humaniora, yang seharusnya tidak hanya dijadikan materi festival melainkan juga diinternalisasikan dalam kebijakan.

Ia menjelaskan perbedaan pendekatan STEM dan humaniora dalam pembangunan, seperti pembangunan jembatan yang tidak hanya harus dipandang dari aspek teknis, tetapi juga dampak sosial dan ekonomi masyarakat menurut kajian humaniora. Perkembangan teknologi dan AI yang mendorong budaya serba cepat justru membuat humaniora menawarkan pendekatan yang menekankan pemikiran mendalam dan melambatkan ritme untuk menggunakan akal budi secara optimal. Manneke menegaskan bahwa humaniora tidak mengalami krisis eksistensi meskipun pemerintah fokus pada STEM, melainkan harus beradaptasi dan memanfaatkan AI sebagai alat bantu tanpa menggantikan akal manusia.

Para guru besar humaniora menyadari pentingnya penguatan STEM untuk mencapai target Indonesia Emas 2045, namun juga menegaskan peran humaniora dalam menjaga harmoni sosial dan kualitas pengambilan keputusan politik.

Prof Luthfi mencontohkan jumlah tenaga ahli teknik Indonesia yang masih rendah dibanding beberapa negara Asia, sehingga pemerintah memperkuat STEM demi meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang teknik. Namun, ia menegaskan bahwa humaniora dapat memperkuat perannya dari sisi kualitas, terutama dalam membangun harmoni sosial yang menjadi fondasi penting kehidupan berbangsa dan bernegara. Untuk memperkuat peran humaniora, 54 guru besar dari 33 universitas dan BRIN akan menggelar Simposium Nasional Guru Besar (SNGB) Humaniora pertama di FIB UI pada 11-13 Agustus 2026.

Simposium ini akan membahas enam sesi diskusi, termasuk Humaniora Digital, Mitigasi Budaya, Kolaborasi Multihelix, Kajian Kebijakan dan Politik, Kohesi Sosial, serta Strategi Pengembangan Humaniora dan Hilirisasi.

Bidang ilmu yang terlibat meliputi sejarah, filsafat, linguistik, susastra, arkeologi, kajian kewilayahan, ilmu perpustakaan, antropologi budaya, dan studi humaniora lainnya. Hasil utama dari simposium adalah dua policy brief yang akan diserahkan kepada Kemendiktiristek dan Kemenkebud untuk menjadi acuan pengembangan ilmu humaniora ke depan.

Konten ini dikutip dari Detikcom dan menggambarkan dinamika kebijakan pendidikan Indonesia di era kecerdasan buatan dan perkembangan ilmu pengetahuan.

Follow pdamtirtasukapura.co.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed