Kepala BGN Ungkap Penyebab Keracunan Program MBG di Papua

Smallest Font
Largest Font

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menjelaskan penyebab banyak kasus keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Papua, dikarenakan makanan dimasak terlalu awal dan tidak dikonsumsi tepat waktu.

Sudaryono mengatakan bahwa dapur MBG di Papua mulai memasak sejak pukul 19.00 malam hari sebelumnya, sehingga makanan yang disajikan pada pukul 11.00 siang sudah dalam kondisi rusak dan menyebabkan keracunan.

"Jam 7 malam di hari sebelumnya sudah mulai masak. Sehingga diberikan di jam 11 dan ada beberapa juga yang keracunan. Saya lihat ini kita ngomongin yang Papua ya, jadi masaknya kecepetan, kemudian saat dibawa itu sudah dalam kondisi rusak," ujar Sudaryono seusai rapat di kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat.

Lebih lanjut, Sudaryono menyebut ada siswa yang membawa pulang makanan MBG dan baru memakannya beberapa jam kemudian, sehingga makanan tersebut sudah tidak segar saat dikonsumsi.

"Dan beberapa laporan yang kami terima dan masih kami validasi lagi adalah ada anak yang membawa pulang MBG-nya. Jadi yang harusnya dimakan jam 11, dia bawa pulang dan baru dimakan pukul 15.00 WIB atau pukul 16.00 WIB, jadi sudah rusak," ungkapnya.

Akibatnya, anggota keluarga lain yang ikut mengonsumsi makanan tersebut juga mengalami keracunan.

"Yang kemudian keracunan bukan hanya anaknya, tetapi juga bapak, ibunya, atau saudaranya yang ikut makan. Ini tentu saja menjadi catatan. Intinya, tidak boleh ada," jelas Sudaryono.

Untuk mengatasi masalah ini, Sudaryono berencana membuat aturan standar mengenai batas waktu konsumsi makanan MBG agar tidak lebih dari 4 jam sejak matang.

"Termasuk kami ingin memastikan semua pengiriman itu, dari kapan matang sampai dengan dikonsumsi, harus sesuai standar. Tidak boleh lebih dari 4 jam kalau tidak salah, sehingga ada best before atau 'sebaiknya dikonsumsi sebelum'," tegasnya.

Selain itu, Sudaryono ingin guru di sekolah ikut menikmati MBG untuk memberikan edukasi gizi yang lebih baik kepada siswa tanpa membebani guru.

"Nah, itu dari sisi edukasinya ingin kami perkuat. Bagaimana guru yang mengajar di kelas itu juga mendapatkan MBG tanpa direpotkan, karena di sekolah sudah ada PIC sekolah. Guru tersebut kemudian ikut makan bareng siswanya untuk fungsi edukasi. Tata kramanya, cuci tangannya, mengantrenya, menyusun omprengnya itu kan bagus, berdoa, kemudian bilang alhamdulillah dan lain-lain," ucapnya.

Guru juga diharapkan memberikan edukasi agar makanan MBG tidak dibawa pulang karena cepat basi.

"Kedua, guru memberikan edukasi gizi, bahwasanya gizi ini penting. Selain itu juga memberikan edukasi agar barang ini jangan dibawa pulang. Maksud saya, ini penting untuk tidak dibawa pulang," imbuh Sudaryono.

Hal ini telah didiskusikan dengan Menteri Pendidikan Kebudayaan dan Riset Abdul Mu'ti untuk menjadi materi edukasi penting di semua sekolah.

"Jangan sampai makanan ini, kan namanya MBG tidak ada pengawetnya, pasti cepat basi kalau tidak sesuai. Apalagi daerahnya panas, ada faktor suhu dan lain-lain yang memicu perkembangan bakteri. Nah, itu yang ingin kami perkuat di sisi edukasi. Kami sudah bicara dengan Pak Menteri Dikdasmen, ini menjadi materi penting di semua sekolah, penting sekali," tutup Sudaryono.

Informasi ini dilansir dari Detikcom.

Follow pdamtirtasukapura.co.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow