Mahasiswa FK Unair Ikuti Program Stase Bedah Saraf di Slovakia

Smallest Font
Largest Font

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Hanifa Lathfi Amali, mengikuti program pertukaran pelajar dengan menjalani stase bedah saraf di Kramáre Hospital, Bratislava, Slovakia, dengan lima delegasi Indonesia lainnya, dilansir dari Detikcom.

Selama stase, Hanifa mengikuti morning round bersama dokter spesialis bedah saraf dan terlibat dalam operasi dengan protokol sterilisasi standar WHO. Ia menyaksikan teknologi medis canggih seperti mikroskop bedah fluoresensi dan USG berbasis kecerdasan buatan.

"Di morning round, kami berdiskusi mengenai hasil operasi sebelumnya dan merencanakan tindakan yang akan dilakukan hari itu, termasuk teknik pembedahan yang akan digunakan," ujar Hanifa, dikutip dari laman resmi Unair.

Pengalaman paling berkesan bagi Hanifa adalah operasi pengambilan tumor otak tanpa membuka kepala pasien melalui tulang sphenoid di hidung, serta teknik menjahit selaput otak menggunakan lapisan tulang tengkorak.

"Ada satu momen yang sangat berkesan, yaitu tindakan transsphenoidal pituitary adenoma resection. Dokter mengambil tumor di otak itu lewat tulang sphenoid di dalam hidung, jadi tidak perlu membuka kepala pasien. Selain itu, ada juga teknik menjahit selaput otak menggunakan lapisan tulang tengkorak. Itu sangat keren!" ungkapnya.

Hanifa menjalani beberapa tahap seleksi mulai dari tes bahasa Inggris hingga wawancara sebelum berangkat ke Slovakia. Kampus dan organisasi mendukung penuh dengan mewajibkan persiapan matang termasuk asuransi dan kontak darurat internasional.

"Pihak kampus dan organisasi sangat mendukung program ini, sekaligus mewajibkan kami melakukan persiapan matang seperti wajib memiliki asuransi dan menyimpan kontak darurat internasional untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan," paparnya.

Tantangan bahasa menjadi kendala karena bahasa resmi Slovakia adalah Slovak, sedangkan Hanifa lebih fasih berbahasa Inggris. Ia menggunakan bahasa tubuh untuk berkomunikasi dengan perawat senior yang kurang menguasai bahasa Inggris.

"Pernah suatu kali kami meminta baju scrub sekali pakai yang berlengan panjang karena berhijab. Perawatnya mengangguk, tapi yang dibawa ternyata malah kapas-kapas steril. Akhirnya kami tertawa dan tetap memakai baju scrub seadanya," kenang Hanifa.

Program ini juga menjadi ajang pertukaran budaya karena diikuti oleh 25 mahasiswa dari berbagai negara seperti Spanyol, Brasil, Meksiko, Tunisia, Kanada, dan Mesir. Mereka mengikuti berbagai acara seperti welcome party, jalan-jalan di Bratislava dan Trnava, berenang di Danau Danube, serta National Food and Beverage Party.

"Mulai dari welcome party, jalan-jalan keliling kota Bratislava dan Trnava, berenang bersama di Danau Danube, sampai memasak dan saling mencicipi masakan khas negara masing-masing di acara National Food and Beverage Party," kata Hanifa.

Hanifa memberikan pesan kepada mahasiswa lain untuk tidak ragu mengambil kesempatan serupa dengan mempersiapkan bahasa Inggris, mencari informasi negara tujuan, dan aktif berorganisasi sebagai investasi relasi sejawat dokter di masa depan.

"Siapkan bahasa Inggris, cari tahu informasi negaranya, dan aktiflah berorganisasi. Ini adalah investasi relasi sejawat dokter di masa depan yang sangat berharga," pesannya.

Follow pdamtirtasukapura.co.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow