Pakar Unpad Sarankan Insentif EV Berbasis Kinerja dan TKDN, Bukan Jenis Baterai

Smallest Font
Largest Font

Pakar energi Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti menilai insentif kendaraan listrik (EV) tidak semestinya hanya fokus pada satu jenis baterai, seperti berbasis nikel atau nickel manganese cobalt (NMC). Ia menekankan perlunya prinsip netralitas teknologi agar konsumen tidak dirugikan dan persaingan pasar tetap sehat.

Yayan menuturkan, insentif pembelian sebaiknya didasarkan pada kandungan lokal (TKDN) dan kinerja lingkungan perusahaan hulu, bukan jenis kimia baterai. Hal ini disampaikannya pada Sabtu (15/8/2026) saat dihubungi.

Menurut Yayan, insentif yang hanya fokus pada satu jenis baterai memaksa konsumen membiayai teknologi yang belum efisien. "Insentif yang diarahkan pada satu kimia baterai berarti membayar konsumen agar tidak memilih opsi yang lebih murah, yang kita tahu sekarang adalah baterai yang basisnya lithium ferro phosphate (LFP)— produk yang belum kompetitif pada harga pasar," jelasnya.

Selain itu, Yayan mengingatkan pentingnya pembatasan durasi insentif agar tidak menimbulkan ketergantungan pasar. "Setiap insentif NMC harus disertai jadwal penghentian bertahap atau sunset clause dan tolok ukur biaya yang terukur. Jangan sampai dukungan pemerintah ini berubah menjadi subsidi permanen," tegasnya.

Yayan menyarankan sunset clause diberlakukan selama 5-7 tahun secara bertahap dengan target penurunan biaya yang transparan. "Jika industri tidak mampu mencapai paritas harga di pasar, pemerintah harus berani menghentikan dukungan tersebut," ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan kendaraan listrik berbasis baterai nikel mendapatkan pemotongan pajak lebih besar. "Kalau mobil yang baterainya nikel, PPN-nya ditanggung 100%. Kalau yang nonnikel, di bawah itu," kata Purbaya dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (7/5/2026).

Untuk mobil roda empat, ada yang mendapat bebas PPN 100% dan ada yang 40%, tergantung bahan baku baterainya. Sedangkan untuk roda dua, insentif sebesar Rp5 juta diberikan untuk 100.000 unit tahap pertama.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah membuka peluang insentif untuk kendaraan listrik berbasis baterai nikel atau NMC guna mendongkrak pasar EV. "Ke depan akan ke sana. [Insentif baterai NMC menjadi] bagian dari salah satu strateginya," ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Senin (3/8/2026).

Bahlil menambahkan, Indonesia telah memiliki dua pabrik baterai kendaraan listrik, termasuk kerja sama dengan Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL) yang segera diresmikan. Pemerintah ingin mendorong permintaan mobil dengan baterai berbahan baku nikel agar rantai pasok berjalan berkelanjutan.

"Kita akan mencari formula agar mobil-mobil yang menggunakan NMC juga kita harus berikan insentif, karena itu berbahan baku dari nikel kita," kata Bahlil.

Berita ini dilansir dari Bloombergtechnoz.

Follow pdamtirtasukapura.co.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed