Pemerintah Fokuskan Stimulus Air Bersih dan Pompanisasi Hadapi Kekeringan El Niño
Pemerintah dan pakar pertanian menyiapkan stimulus untuk menghadapi dampak kekeringan ekstrem akibat fenomena El Niño dengan fokus pada penyediaan air bersih dan sistem pompanisasi, kata Prof. Bustanul Arifin dari Universitas Lampung, Jumat (7/8/2026) dilansir dari Bloombergtechnoz.
Bustanul menjelaskan bahwa bantuan darurat berupa air bersih dan pompanisasi sangat penting untuk menjaga daya tahan sosial dan ekonomi keluarga petani yang rentan terdampak gagal panen akibat kekeringan.
Ia juga menekankan perlunya adaptasi struktural melalui rotasi tanaman dengan palawija tahan kekeringan serta rehabilitasi tempat penampungan air seperti embung menggunakan teknologi tepat guna yang bisa dikuasai petani.
"Pemerintah pusat dan daerah perlu menyiapkan bantuan darurat, bahan pangan, dan air bersih. Sistem pompanisasi sangat diperlukan jika kekeringan ekstrim melanda rumah tangga petani dan keluarga rentan," ujar Bustanul.
Untuk mengurangi risiko gagal panen, Bustanul menyarankan petani beralih ke palawija seperti jagung, ubi kayu, dan kacang-kacangan. Jika tetap menanam padi dua kali atau lebih dalam setahun, pemerintah harus menjamin ketersediaan benih unggul tahan kekeringan seperti Inpari 13 dan varietas padi gogo lainnya.
Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) per Juli 2026 menunjukkan fenomena El Niño menyebabkan penurunan produksi padi akibat menyusutnya luas panen selama tiga bulan berturut-turut. Pada Mei 2026, luas panen hanya 0,96 juta hektar turun 2,35% dari tahun sebelumnya, sehingga produksi padi merosot 3,43% menjadi 4,92 juta ton Gabah Kering Giling (GKG).
Penurunan produksi ini sudah terjadi sejak Maret dan April 2026 yang seharusnya masa panen raya, karena ketergantungan usaha tani pada perluasan lahan, bukan inovasi teknologi atau benih tahan kekeringan, kata BPS.
Dampak kemarau juga dirasakan sektor perkebunan, khususnya kopi. Produksi kopi Indonesia turun dari 742.000 ton pada 2025 menjadi 682.000 ton pada 2026, berbanding terbalik dengan tren kenaikan produksi kopi dunia yang mencapai 11,28 juta ton pada 2026.
Negara pesaing seperti Brasil, Vietnam, dan Kolombia justru meningkatkan produksi kopi, sementara Indonesia mengalami penurunan karena kurangnya adaptasi teknologi terhadap kekeringan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah akan terus memantau kebutuhan insentif untuk menghadapi kemarau semester kedua 2026, terutama dalam pemindahan air dari sungai ke daerah pertanian yang memerlukan pompanisasi.
"Tentu kita harus melihat wilayah-wilayah dan kantong-kantongnya, dan tentu insentif yang diberikan sesuai kementerian/lembaga yang terkait," kata Airlangga dalam konferensi pers pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026, Rabu (5/8/2026).
Ia menambahkan pemerintah akan menyiapkan anggaran yang diperlukan untuk mendukung sektor pertanian menghadapi musim kemarau di paruh kedua tahun ini.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow