Prof Ari Klarifikasi Gejala Usus Buntu Akut dan Diagnosis yang Berbeda
Selebgram Fahira Almira menjadi sorotan setelah membandingkan layanan kesehatan antara Indonesia dan Malaysia terkait diagnosis usus buntu yang dialaminya.
Fahira bercerita diagnosis di rumah sakit Indonesia menunjukkan usus buntu, namun di Penang, Malaysia, hasilnya berbeda. Hal ini memunculkan pertanyaan publik tentang bagaimana seseorang dengan diagnosis usus buntu akut masih bisa berjalan dan naik pesawat ke luar negeri.
Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM, Prof Ari Fahrial Syam, menyatakan usus buntu akut biasanya menimbulkan nyeri hebat di perut kanan bawah sehingga sulit berjalan.
"Kalau waktunya sudah 3 bulan, ada kemungkinan bahwa ketika di awal memang diduga apendiks akut, tapi setelah diobati sudah membaik dan pasien 3 bulan begitu bisa berubah. Jangankan 3 bulan, mungkin dalam 2 hingga 3 minggu kalau kondisinya membaik gejala akutnya sudah hilang," ujar Prof Ari kepada detikcom, Kamis (13/8/2026).
Prof Ari menjelaskan bahwa dalam beberapa kasus usus buntu dapat diobati tanpa operasi, dan gejala bisa hilang dalam beberapa minggu atau bulan sehingga kondisi pasien tidak lagi akut.
"Jadi memang kurang pas juga kalau dibilang pasien bisa naik pesawat, kemudian bisa berobat ke rumah sakit di sana, jalan kaki, segala macam, dinyatakan sebagai kondisi yang akut. Jadi memang bisa saja pada saat datang sudah kondisinya tidak akut lagi," tambahnya.
Prof Ari mengingatkan pentingnya berhati-hati bagi yang tidak memiliki latar belakang medis dalam menyampaikan pernyataan agar tidak menimbulkan kegaduhan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow