Race Flag WBGT Jadi Panduan Penting Pelari Marathon Hadapi Perubahan Cuaca

Smallest Font
Largest Font

Race Flag berbasis Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) menjadi alat penting bagi pelari marathon untuk mengenali perubahan cuaca sepanjang lintasan. Sistem ini membantu pelari menyesuaikan strategi demi menjaga kesehatan dan keselamatan selama perlombaan.

Menurut Race Director Indonesia Muda Road Runner (IMRR) Satrio Guardian, WBGT mengukur kondisi panas secara menyeluruh dengan mempertimbangkan suhu udara, paparan radiasi, angin, dan kelembapan. Hasil pengukuran ini diterjemahkan dalam bentuk bendera berwarna yang dipasang setiap 5 kilometer.

Race flag terdiri dari empat warna dengan tingkat risiko berbeda yang mudah dikenali pelari:

  • Hijau: Kondisi normal dengan suhu di bawah 24,9°C, aman untuk aktivitas endurance dengan anjuran menjaga hidrasi dan strategi lomba.
  • Kuning: Status waspada pada suhu 25-29,9°C, risiko heat stress mulai meningkat sehingga pelari harus meningkatkan asupan cairan dan menyesuaikan kecepatan.
  • Merah: Risiko tinggi dengan suhu 30-31,9°C, pelari disarankan mengurangi intensitas dan memanfaatkan fasilitas air serta medis bila perlu.
  • Hitam: Kondisi ekstrem di atas 32°C, perlombaan dihentikan sementara demi keselamatan pelari dan panitia mengambil tindakan mitigasi.

Perubahan Cuaca Selama Perlombaan

Kondisi lingkungan dapat berubah drastis selama lomba, misalnya pelari yang memulai pagi hari dengan bendera hijau bisa menghadapi perubahan menjadi kuning atau merah setelah berlari beberapa jam. Oleh karena itu, bendera ini menjadi peringatan dini bagi pelari untuk mengatur ulang strategi dan intensitas lari.

Satrio mengingatkan pentingnya penyesuaian pace dan hidrasi agar pelari tidak memaksakan diri saat risiko panas meningkat. "Jangan sampai kondisinya lagi merah, kita tetap push. Yang ada nanti malah kita bisa nggak finish," ujarnya.

Manfaat Race Flag untuk Keselamatan Pelari

Sistem race flag juga berfungsi sebagai peringatan agar pelari tidak terlambat menyadari perubahan kondisi cuaca yang berpotensi menimbulkan heat-related illness seperti heat exhaustion dan heat stroke. Saat bendera kuning atau merah muncul, pelari harus menyesuaikan intensitas dan memperhatikan kebutuhan cairan.

Untuk perlombaan dengan jarak lebih dari 10 kilometer dan durasi panjang, sistem ini sangat krusial. Pada Amartha 10X Run 2026, misalnya, kategori half marathon memiliki cut-off time hingga empat jam dengan start sebelum matahari terbit.

Strategi Lari Sesuai Kondisi Cuaca

Satrio menekankan bahwa kondisi lingkungan harus menjadi bagian dari strategi pelari. Kecepatan yang telah direncanakan sebelumnya bisa disesuaikan menyesuaikan perubahan cuaca agar pelari bisa menyelesaikan lomba dengan aman.

Konsep race flag seperti ini sudah diterapkan di beberapa marathon besar di luar negeri dan IMRR berupaya mengadopsinya ke acara lari di Indonesia untuk meningkatkan keselamatan peserta.

Informasi ini dikutip dari Detik Health.

Disclaimer

This article was automatically rewritten by AI based on source: health.detik.com without altering the facts of the original article.
Follow pdamtirtasukapura.co.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow