Yield obligasi domestik beragam setelah pekan penurunan
Pergerakan yield surat utang domestik pada Rabu (26/8/2026) kembali beragam setelah sempat menguat pekan lalu, menandakan dinamika permintaan lintas tenor. Dilansir dari Bloombergtechnoz, kenaikan terjadi pada tenor pendek dan sebagian tenor acuan, sementara beberapa tenor panjang masih turun.
Menurut data Bloomberg pada 11.06 WIB, yield tenor 1 tahun naik 5 bps ke 6,73%, dan yield tenor 5 tahun naik 1,6 bps ke 6,88%. Yield tenor 10 tahun ikut naik 2,9 bps ke 7,04%, sehingga sebagian penguatan yang terjadi sejak pekan lalu terpangkas.
Meski begitu, tekanan jual tidak merata. Dilansir dari Bloombergtechnoz, tenor 2 dan 3 tahun masih mencatat penurunan yield masing masing 0,9 bps ke 6,63% dan 1,2 bps ke 6,68%, yang mengindikasikan pergerakan tetap terfragmentasi.
Untuk tenor panjang, pergerakan relatif lebih kalem. Yield tenor 16 tahun turun 2,3 bps ke 7,11%, tenor 18 tahun turun 0,1 bps ke 7,26%, dan yield tenor 20 tahun turun 7,12%. Bloombergtechnoz menilai kondisi ini belum cukup kuat untuk menyebut tren berubah menjadi bearish dari bullish.
Adapun Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist, menyoroti kekhawatiran penurunan performa pertumbuhan ekonomi akibat gagal negosiasi dagang AS dan Kanada dalam evaluasi perjanjian USMCA.
"Perang dagang ini menambah beban perekonomian global setelah pemerintah AS mengumumkan rencana perang ekonomi dengan Iran yang menyasar negara-negara rekan dagang Iran, dan memicu penurunan harga minyak mentah Brent," kata Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist.
Di sisi lain, Bloombergtechnoz menyebut harga minyak mentah yang lebih landai masih menopang pasar keuangan domestik. Hal itu terlihat dari rupiah yang siang ini relatif stabil di bawah kisaran Rp17.700/US$, sementara tekanan terhadap rupiah dari sisi pasar obligasi diproyeksikan terkendali selama tenor panjang masih mengalami penurunan yield.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow