Wakil Menteri Stella Christie Ungkap Tingkat Serapan Kerja Lulusan Vokasi Lebih Tinggi
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menyatakan tingkat penyerapan tenaga kerja lulusan pendidikan vokasi lebih tinggi dibandingkan lulusan sarjana. Pernyataan ini disampaikan dalam Talkshow Pionir Permadani di Grha Sabha Pramana UGM, Yogyakarta, pada Minggu (8/8).
Berdasarkan tracer study dari 2021 hingga 2024, penyerapan tenaga kerja lulusan vokasi mencapai sekitar 77%, sedangkan lulusan akademik S1 sebesar 72%, menurut dilansir dari Bloombergtechnoz.
Di hadapan 1.945 mahasiswa baru Sekolah Vokasi UGM, Stella menepis anggapan bahwa lulusan vokasi sulit diterima di dunia kerja. Ia menegaskan bahwa pendidikan vokasi berperan penting mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.
"Per hari ini, industri dan pasar membutuhkan tenaga kerja terampil yang siap kerja," ujar Stella.
Stella menyebut pendidikan vokasi berperan utama merespons kebutuhan industri melalui penyediaan tenaga kerja terampil dan berkualitas. Ketersediaan tenaga kerja ini menjadi faktor penting untuk keberlangsungan industri dan investasi.
"Kalau tidak ada suplai tenaga kerja terampil, industri akan mati dan investor enggan berinvestasi. Perguruan tinggi vokasi paling utama perannya untuk merespons pasar kerja," kata Stella.
Ia mencontohkan pengembangan pendidikan vokasi di China, khususnya di Shenzhen Polytechnic University yang bekerja sama dengan industri besar seperti Huawei dan BYD. Kawasan Greater Bay Area yang meliputi Shenzhen, Hong Kong, dan Guangzhou memiliki pendapatan mencapai US$2,15 triliun, lebih besar dari output ekonomi Indonesia yang sekitar US$1,55 triliun.
"Inilah mengapa saya sebut vokasi kunci masa depan Indonesia," tegas Stella.
Keunggulan pendidikan vokasi juga terlihat di Eropa, seperti di Swiss, di mana lulusan sarjana terapan dapat memperoleh gaji hingga 102.114 Swiss Franc atau sekitar Rp2 miliar. Korea Selatan juga terus memperkuat vokasi karena menyadari pentingnya tenaga kerja terampil bagi ekonomi mereka.
"Karena mereka tahu perekonomian mereka tidak akan bisa maju tanpa vokasinya yang kuat," jelas Stella.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi berkomitmen memperkuat pendidikan vokasi melalui tiga pilar utama: kurikulum yang sesuai industri, pengajar yang sesuai kebutuhan industri, dan infrastruktur yang sesuai standar industri.
Salah satu kerja sama yang sudah berjalan adalah dengan LiuGong, perusahaan alat berat multinasional asal China. Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) mendapatkan beasiswa belajar dan magang selama satu tahun di LiuGong, baik di China maupun Indonesia.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow