Kementerian ESDM Ungkap Pemulihan Blok Rokan Belum Selesai

Smallest Font
Largest Font

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa pemulihan blok Rokan yang dikelola PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) belum sepenuhnya selesai karena satu pembangkit listrik masih mengalami kendala teknis, dilansir dari Bloombergtechnoz.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas, Laode Sulaeman, menjelaskan bahwa dari dua pembangkit listrik, hanya satu yang sudah diperbaiki sementara yang lain masih dalam proses. Ia menambahkan, "Rokan sekarang sedang pemulihan pembangkit, satu lagi. Kalau pembangkit ini sudah pulih insyaallah ada kenaikan nanti."

Laode mengungkapkan bahwa setelah perbaikan, blok Rokan tidak langsung beroperasi penuh, melainkan melalui proses peningkatan produksi secara bertahap. Ia menjelaskan, "Belum karena kan dia masih membutuhkan waktu. Jadi begitu listrik jalan ini proses startup. Jadi bor-bor yang dulunya pompa yang mati kan dipanaskan dulu."

Perbaikan pembangkit listrik di PT PLN Mandau Cipta Tenaga Nusantara (MCTN) juga sudah hampir selesai setelah rotor turbin dan kompresor tiba dan sedang dipasang. "Sudah [sampai rotor turbin dan kompresor pembangkit]. Coba mungkin akhir Juli ini kita akan infokan kembali [kondisi lifting Blok Rokan]," kata Laode.

Sebelumnya, SKK Migas mengungkapkan penurunan produksi minyak di blok Rokan dan Cepu disebabkan oleh gangguan operasional sejak awal 2026, seperti kebocoran pipa dan gangguan kelistrikan. Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, mengatakan, "Untuk realisasi produksi kalau kita lihat di grafik ini, pada Januari sangat rendah karena terjadi pipa putus, sehingga tujuh KKKS produksinya sempat berhenti."

Djoko menambahkan, "Setelah itu ada problem kelistrikan di PHR dan dilanjutkan dengan penurunan produksi di Banyu Urip, di mana dua blok migas ini merupakan penopang terbesar produksi nasional kita."

Direktur Utama PHR, Muhammad Arifin, menyatakan bahwa masalah listrik telah terjadi sejak akhir 2025 dan proses perbaikan sedang berlangsung dengan target selesai Juli 2026. "Proses penyelesaian perbaikan dari genset di net dependable capacity [NDC] yang dioperasikan oleh PLN sedang dilakukan dan mudah-mudahan di pertengahan Juli, kita bisa beroperasi kembali," ujar Arifin.

Hingga Mei 2026, produksi minyak, kondensat, dan NGL dari PHR mencapai 131.040 barel per hari atau sekitar 80% dari target APBN sebesar 163.859 barel per hari. "Sekarang year to date-nya di Rokan, produksi kita sudah di 131.000 bph dan insyaallah diprognosakan kalau semuanya lancar," tambahnya.

Senior Vice President ExxonMobil Indonesia, Muhammad Nurdin, mengakui adanya penurunan produksi di lapangan Banyu Urip akibat kendala teknis. "Kami yakin, dengan kapabilitas teknologi global yang dimiliki ExxonMobil serta keunggulan dalam eksekusi lapangan [execution excellence], kami mampu men-deliver target dan mengoptimalkan kembali hasil produksi dari Blok Cepu," ujarnya.

SKK Migas mencatat lifting minyak mentah hingga Mei 2026 mencapai 491.300 barel per hari, dengan total lifting minyak, kondensat, dan NGL sebesar 576.200 barel per hari. Target lifting minyak tahun ini adalah 610.000 barel per hari. Produksi gas hingga Mei 2026 mencapai 6.550 juta standar kaki kubik per hari, dengan salur gas 5.207 juta standar kaki kubik per hari.

Follow pdamtirtasukapura.co.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow