Kemenperin Catat Ekspor Kopi dan Teh Olahan Indonesia Meningkat pada 2025
Kementerian Perindustrian melaporkan bahwa ekspor kopi olahan Indonesia mencapai US$ 692 juta pada 2025, naik 4,36% dibandingkan tahun sebelumnya, menunjukkan peningkatan minat pasar global terhadap produk kopi dan teh Indonesia, dilansir dari Detik Finance.
Indonesia kini menjadi produsen kopi terbesar keempat dunia menurut Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza yang menyampaikan hal tersebut saat membuka Specialty Indonesia 2026 di Jakarta.
Faisol menyatakan, "Industri pengolahan menempatkan Indonesia sebagai produsen kopi terbesar keempat di dunia." Pernyataan ini menegaskan posisi strategis Indonesia di pasar kopi global.
Selain kopi, industri teh Indonesia juga menunjukkan pertumbuhan positif. Pasar ekstrak teh global meningkat dari US$ 3,6 juta pada 2019 menjadi US$ 5,6 juta pada 2025, sementara pasar suplemen teh hijau mencapai US$ 909,9 juta pada 2025 dan diperkirakan tumbuh hingga US$ 1,33 miliar pada 2033.
Faisol menambahkan, "Kondisi ini menunjukkan besarnya peluang bagi industri teh Indonesia untuk meningkatkan daya saing dan memperluas pasar produk olahan bernilai tambah." Hal ini menjadi dorongan penting bagi pengembangan industri teh nasional.
Indonesia juga dikenal sebagai produsen produk olahan kakao terbesar keempat dunia dan produsen biji kakao terbesar ketujuh. Industri hortikultura nasional yang didukung oleh hasil produksi buah dan sayuran melimpah mencatat nilai ekspor sebesar US$ 544,8 juta pada 2025, dengan nanas kaleng sebagai kontributor utama hampir setengah dari total ekspor.
Dalam sektor produk olahan susu, Indonesia menunjukkan potensi berkembang dengan produk bernilai tambah seperti keju dan gelato yang prospektif seiring perkembangan industri kuliner, bakery, hotel, restoran, dan kafe.
Faisol juga menyebutkan, "Industri Hasil Tembakau merupakan salah satu industri manufaktur strategis yang menunjukkan pertumbuhan kuat dan menempatkan Indonesia sebagai eksportir terbesar keenam dunia." Salah satu produk unggulan adalah cerutu premium berbasis tembakau Deli dan Besuki Na-Oogst yang diakui di pasar internasional.
Lebih lanjut, produk fermentasi lokal dinilai memiliki peluang pengembangan besar. Berdasarkan Fortune Business Insights, pasar pangan fermentasi global diperkirakan mencapai US$ 788,33 juta pada 2025 dan diperkirakan menembus US$ 1,2 miliar pada 2034.
"Produk olahan fermentasi berbasis lokal berpotensi untuk dikembangkan sebagai subsektor industri yang menciptakan nilai tambah dan produk berdaya saing," ujar Faisol. Ia berharap ajang Specialty Indonesia dapat menjadi ruang besar bagi pelaku bisnis dan meningkatkan citra merek Indonesia di pasar internasional.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow