Ekspor Nikel Turun 12,14 Persen, Nilai Naik 69,3 Persen di Semester I 2026

Smallest Font
Largest Font

Volume ekspor produk olahan nikel Indonesia turun 12,14% menjadi 1,06 juta ton pada Januari—Juni 2026, sementara nilai ekspor naik 69,3% menjadi US$6,54 miliar, dilansir dari Bloombergtechnoz.

Penurunan volume ekspor terjadi bersamaan dengan lonjakan harga nikel dunia dan proses hilirisasi yang sedang berjalan di Indonesia.

Analis komoditas dan Founder Traderindo Wahyu Laksono menyatakan, "Terdapat penguatan harga jual rata-rata di pasar internasional untuk produk olahan nikel selama semester I-2026." Harga logam nikel di London Metal Exchange mengalami fluktuasi antara US$16.450 hingga US$19.450 per ton sepanjang periode tersebut.

Wahyu menambahkan, "Faktor pemulihan permintaan global di sektor kendaraan listrik dan baja nirkarat turut mendongkrak nilai transaksi kendati volume fisik pengapalan mengalami koreksi." Penurunan volume ekspor juga dipengaruhi pergeseran ekspor dari produk nickel pig iron dan feronikel ke mixed hydroxide precipitate dan komponen prekursor baterai.

"Produk-produk hilir lanjutan ini memiliki volume fisik yang lebih kecil per satuan tonase ekspor, tetapi mendatangkan devisa yang jauh lebih besar per unitnya," ujar Wahyu.

Menurut Wahyu, penurunan volume ekspor juga terkait dengan ketidakpastian kebijakan domestik, khususnya pemangkasan kuota produksi dan keterlambatan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 yang berpotensi menghambat pasokan bijih bagi smelter.

"Kenaikan biaya produksi smelter hidrometalurgi akibat harga energi dan bahan baku seperti sulfur juga membuat operator smelter lebih selektif mengerem kapasitas produksi untuk menghindari operasi tidak efisien," kata Wahyu.

Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) melaporkan realisasi bijih nikel Januari—Juni 2026 mencapai 120,6 juta ton atau 46,2% dari kuota produksi RKAB 2026 sebesar 260—270 juta ton. Terdapat 422 izin usaha pertambangan aktif yang memasok 79 smelter, terdiri dari 55 fasilitas pirometalurgi, 10 hidrometalurgi, 10 penghasil nickel matte, dan 6 smelter baja nirkarat terintegrasi.

APNI mencatat kebutuhan bijih 79 smelter ini jika beroperasi penuh bisa mencapai 415 juta ton per tahun, jauh di atas kuota produksi RKAB 2026.

Kementerian Perindustrian memperketat penerbitan izin usaha industri smelter nikel. Direktur Jenderal ILMATE Setia Diarta menjelaskan, "Pengusaha nikel tak diperkenankan membangun smelter baru yang hanya mengolah nikel menjadi produk antara seperti nickel matte, MHP, FeNi, dan NPI." Hal ini sesuai dengan Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015—2035.

Setia menambahkan, "Untuk target industri pengolahan dan pemurnian nikel tahun 2025—2035 bukan lagi pada nikel kelas 2." Kebijakan ini juga ditegaskan dalam Peraturan Pemerintah No. 28/2025 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko yang diteken pada Juni 2026.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyatakan, "Nikel dan barang daripadanya mengalami kenaikan nilai ekspor 69,30%, meski volumenya turun 12,14%." Ekspor produk nikel paling banyak dikirim ke China dengan volume sekitar 982,47 ribu ton atau 92,64% dari total ekspor Indonesia pada periode tersebut.

Follow pdamtirtasukapura.co.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow