Ilmuwan Teliti Fenomena Pita Bayangan Gerhana Matahari Total 2026

Smallest Font
Largest Font

Fenomena pita bayangan saat gerhana Matahari total akan kembali diamati oleh ilmuwan di jalur totalitas yang melintasi utara Rusia, Greenland, Islandia barat, utara Spanyol, dan timur laut Portugal pada hari Rabu mendatang, dilansir dari Detik iNET.

Pita bayangan adalah garis-garis gelap panjang dengan celah putih yang muncul sesaat sebelum dan sesudah fase totalitas gerhana, saat Bulan sepenuhnya menutupi Matahari. Fenomena ini telah menjadi misteri ilmiah selama berabad-abad.

David Turnshek, profesor fisika dan astronomi University of Pittsburgh, pertama kali menyaksikan pita bayangan saat remaja pada tahun 1970. Ia menjelaskan bahwa fenomena ini mudah dilihat mata manusia namun sulit direkam dengan kamera karena kontras yang sangat halus.

"Kira-kira waktu itu umur saya 14 tahun. Saya pergi melihat gerhana total dekat Virginia Beach. Saat itu tahun 1970, saya membuat teleskop sendiri dan pergi memotret gerhana," ujar Turnshek.

"Ketika berada di sana, tepat sebelum fase totalitas, saya melihat pita-pita cahaya berkelebat menyapu tanah," tambahnya.

Pada gerhana total tahun 2017 yang melintasi Amerika Serikat, Turnshek bersama mahasiswa University of Pittsburgh menguji teori bahwa turbulensi atmosfer menyebabkan pita bayangan dengan memasang sensor cahaya di tanah dan balon stratosfer.

"Kami melihat efek ini di atas atmosfer sekaligus di permukaan tanah. Artinya teori utama tentang pita bayangan bisa jadi keliru, atau setidaknya turbulensi bukan satu-satunya penjelasan," ujar Turnshek.

Temuan itu mengarah pada teori alternatif bahwa pita bayangan adalah efek difraksi-interferensi, di mana gelombang cahaya membelok dan saling berinterferensi ketika melewati tepian Bulan yang melengkung.

"Dahulu ini sempat menjadi teori terpopuler, bahwa fenomena ini merupakan semacam efek difraksi-interferensi. Pemikirannya adalah kita mengalami gerhana dan Bulan, meski tepinya melengkung, bertindak layaknya mata pisau raksasa," jelas Turnshek.

Turnshek berencana menyaksikan gerhana di Leon, Spanyol, dan membawa detektor elektronik untuk merekam pita bayangan, meski tidak bisa melakukan eksperimen setara gerhana 2017 karena keterbatasan logistik.

Gordon Telepun, pemburu gerhana dan mantan duta NASA, siap mendokumentasikan pita bayangan dari Pulau Mallorca, Spanyol. Ia menjelaskan bahwa fenomena ini hanya bisa terlihat di permukaan yang mulus dan terang.

"Anda tidak akan bisa melihatnya di atas rumput atau aspal. Anda memerlukan latar permukaan mulus dan berwarna terang. Kuncinya adalah harus tahu bahwa yang dicari adalah barisan garis-garis samar. Visualisasikan dalam pikiran Anda apa yang sedang dicari, karena tampilannya sangat tipis dan halus," ujar Telepun.

Joe Conti, peneliti independen dari Massachusetts, mengajak pengamat gerhana di Islandia dan Spanyol merekam pita bayangan menggunakan kamera ponsel dalam proyek sains warga. Sudah ada lima kelompok yang siap bergabung.

Follow pdamtirtasukapura.co.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed