Indonesia dan Korea Selatan Bahas Lanjutan Kerja Sama Pengembangan Pesawat Tempur KF-21
Indonesia dan Korea Selatan sedang membahas potensi kelanjutan kerja sama dalam pengembangan pesawat tempur KF-21 Boramae atau KFX, setelah Korea Selatan menyelesaikan pengembangan jet tempur buatan dalam negeri pertamanya pada Juli 2026, dilansir dari Bloombergtechnoz. Konselor dan Kepala Bagian Politik Kedutaan Besar Korea Selatan di Indonesia, Uhm Taeho, menyatakan pembahasan masih berlangsung di tingkat Kementerian Pertahanan dan Kementerian Luar Negeri untuk memperdalam kemitraan dan menentukan bentuk kerja sama tahap berikutnya. "Saat ini kami masih dalam proses pembahasan mengenai bentuk spesifik dari kerja sama tahap berikutnya. Jadi, saya tidak serta-merta akan menyebutnya sebagai sebuah perubahan, karena kami sendiri belum mengumumkan apa pun," ujar Uhm dalam Workshop Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea pada 26 Agustus 2026.
"Jika kita puas dengan hasil investasi yang telah dilakukan Indonesia dan Korea, serta kemitraan yang telah dibangun, saya pikir kita akan melanjutkan ke tahap berikutnya," tambahnya.
Uhm menegaskan bahwa kerja sama pertahanan adalah proyek besar yang dipengaruhi kondisi ekonomi dalam dan luar negeri, sehingga perlu pertimbangan waktu dan metode yang tepat. Kepala Pusat Strategi Kebijakan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, mengatakan prioritas kerja sama industri pertahanan antara Indonesia dan Korea Selatan berubah seiring waktu, namun pengembangan bersama KF-21 tetap menjadi fokus utama.
"Setelah penandatanganan kerja sama, terdapat sejumlah hal di Indonesia dan Korea Selatan yang membuat prioritas masing-masing negara berubah seiring waktu," ujar Nabyl. Pembahasan kemitraan KF-21/IF-X sempat terjadi saat kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Korea Selatan pada April 2026, di mana kedua pemimpin sepakat pengembangan bersama berjalan baik dan dijadwalkan selesai pada Juni 2026.
Pada Juni 2026, Kementerian Pertahanan menyatakan Indonesia tak lagi terlibat langsung dalam produksi pesawat KF-21 Boramae, dan akan memperoleh pesawat melalui pembelian langsung dari pemerintah Korea Selatan. Karo Infohan Setjen Kementerian Pertahanan, Brigjen Rico Ricardo Sirait, mengatakan setiap kerja sama pertahanan harus memberikan manfaat optimal bagi Indonesia, khususnya alih teknologi dan nilai tambah bagi industri pertahanan nasional. "Evaluasi program KF-21 menunjukkan perlunya penyesuaian kebijakan agar hasil sesuai investasi dan kebutuhan strategis pertahanan Indonesia," ujar Rico, dikutip Bloombergtechnoz pada 29 Juni 2026.
Uhm menyatakan kendala sempat muncul dalam kerja sama ini, namun kedua negara berhasil menyesuaikan ketentuan dan mencapai kesepakatan melanjutkan proyek pengembangan KF-21/IF-X.
"Kami mencapai penyelesaian proyek yang berhasil bagi kedua belah pihak. Jika ditanya apakah hal ini membuat Korea enggan melanjutkan kerja sama, jawabannya tidak. Justru sebaliknya," ujar Uhm.
"Pengalaman melewati proses ini merupakan aset berharga yang membangun rasa saling percaya sebagai mitra. Kami puas dengan hasil proyek pengembangan bersama tersebut," tambahnya. Uhm yakin kerja sama pertahanan Indonesia dan Korea Selatan akan berlanjut termasuk pelatihan sumber daya manusia serta sistem pemeliharaan, perbaikan, dan perawatan (MRO) yang berkelanjutan.
"Jika aspek tersebut digabungkan, kita memiliki dasar membangun kemitraan jangka panjang yang lebih berkelanjutan," tutup Uhm.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow