Menelusuri Jejak Sejarah di Rumah Pengasingan Sukarno di Rengasdengklok

Smallest Font
Largest Font

Rumah pengasingan Sukarno di Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat, lebih dari sekadar bangunan tua. Di sana, pengunjung dapat menyaksikan langsung peninggalan masa lalu yang masih terjaga keasliannya. Bangunan yang dibangun pada 1920 milik keluarga Djiaw Kie Siong ini mempertahankan sejumlah bagian asli, termasuk perabotan yang sudah berusia lebih dari satu abad.

Salah satu peninggalan menarik adalah bangku semata yang sederhana tanpa sandaran tangan. Bangku ini sudah berusia lebih dari 100 tahun dan diduga pernah dipakai dalam proses perumusan penting di rumah tersebut.

Di samping bangku tersebut, terdapat meja altar peninggalan Djiaw Kie Siong yang digunakan untuk sembahyang. Meja ini masih kokoh dan dipertahankan dalam bentuk aslinya sesuai tradisi keluarga.

Bingkai cermin dari tahun 1945 juga masih terjaga, meski kaca cermin sudah diganti karena pecah dan menghitam. Bingkai asli tetap dipertahankan sebagai bagian penting rumah bersejarah ini. Di kamar, lemari kayu tradisional yang dulunya dipakai untuk menyimpan pakaian rombongan Sukarno-Hatta masih ada dan asli. Setelah Djiaw Kie Siong wafat, beberapa barang seperti meja dan lemari dibagikan kepada anak-anaknya sebagai cindera mata.

Dipan tidur yang digunakan oleh rombongan Sukarno dan Hatta juga masih ada di masing-masing kamar. Dipan ini menjadi salah satu jejak nyata yang menghubungkan pengunjung dengan sejarah perjuangan kemerdekaan. Di atas dipan tidur terdapat laci yang dulu dipakai untuk menyimpan uang Mohammad Hatta. Meskipun laci tersebut kini sudah hilang dan rusak, bagian lemari yang tersisa masih bisa dilihat oleh pengunjung.

Ruang tengah rumah ini menampilkan langit-langit dari anyaman bambu yang disebut "gedek" dalam tradisi Jawa. Keunikan ini menunjukkan kearifan lokal yang masih dipertahankan dalam arsitektur rumah. Selain sebagai situs bersejarah, rumah ini juga masih dijadikan tempat tinggal oleh keturunan Djiaw Kie Siong.

Dengan demikian, wisatawan tidak hanya menyaksikan bangunan bersejarah, tapi juga rumah yang terus dirawat dan dihuni keluarga asli. Informasi ini dikutip dari Detik Travel yang melaporkan kondisi dan nilai historis rumah pengasingan tersebut.

Follow pdamtirtasukapura.co.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed