Kemenkes Minta Sikapi Proporsional Soal Konten Pelayanan Kesehatan

Smallest Font
Largest Font

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta masyarakat menyikapi konten yang membandingkan pengalaman pelayanan kesehatan di Indonesia dengan luar negeri secara proporsional, dilansir dari Detik Health.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menyatakan bahwa dugaan kesalahan diagnosis tidak bisa disimpulkan hanya berdasarkan konten media sosial. Penilaian harus didasarkan pada pemeriksaan klinis, rekam medis, dan diagnosis profesional kesehatan yang menyeluruh.

Aji juga memahami kekhawatiran tenaga medis dan tenaga kesehatan (nakes) terhadap narasi yang menggeneralisasi kualitas rumah sakit dan kemampuan nakes di Indonesia. Kemenkes mengapresiasi dedikasi nakes di berbagai daerah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa perbedaan pertimbangan klinis, diagnosis banding, dan keputusan pemeriksaan lanjutan adalah hal lazim dalam dunia kedokteran. Pasien berhak mencari pendapat medis kedua atau second opinion.

Pengalaman dalam satu kasus tidak dapat dijadikan dasar menilai kompetensi seluruh nakes maupun mutu pelayanan kesehatan nasional, apalagi membandingkan dengan layanan kesehatan luar negeri, ujar Aji.

Kemenkes memastikan fasilitas dan nakes di Indonesia bekerja berdasarkan standar profesi, pelayanan, serta prosedur operasional standar (SOP) untuk menjamin mutu pelayanan dan keselamatan pasien.

Aji mendorong penguatan budaya pelayanan berkualitas dengan mengutamakan keselamatan pasien. Jika masyarakat menemukan dugaan ketidaksesuaian pelayanan, disarankan menggunakan mekanisme resmi di fasilitas kesehatan untuk klarifikasi, pengaduan, dan penilaian berbasis bukti.

Kemenkes mengajak semua pihak tidak saling menyalahkan dan tidak membangun generalisasi yang bisa menurunkan kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan di Indonesia.

"Kejadian ini bisa menjadi refleksi dan pembelajaran untuk terus meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia," pungkas Aji.

Kontroversi muncul akibat kasus radang usus buntu, di mana seorang influencer mengaku tiga kali didiagnosis radang usus buntu di Indonesia, hingga menjalani operasi. Namun saat memeriksakan diri di Penang, tidak ditemukan masalah.

Disclaimer

This article was automatically rewritten by AI based on source: health.detik.com without altering the facts of the original article.
Follow pdamtirtasukapura.co.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed