IDI Tanggapi Dugaan Kampanye Negatif Terhadap Dokter Indonesia
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) merespons dugaan kampanye negatif yang viral terkait perbandingan layanan dokter di Indonesia dengan rumah sakit di Penang, Malaysia, yang diunggah oleh selebgram Fahira Almira, dilansir dari Detik Health.
Ketua Bidang Humas PB IDI, dr. Cashtry Meher, menyatakan setiap pasien berhak menyampaikan pengalaman dan kritik pelayanan kesehatan. Namun, pengalaman individu tidak boleh digeneralisasi untuk menyudutkan seluruh dokter Indonesia.
"Kami memahami dan mengakomodasi perasaan masyarakat yang terjadi. Setiap pasien memiliki hak untuk menyampaikan pengalaman, tetapi terasa tidak mendapatkan penyelesaian yang sesuai dengan harapannya," ujar dr. Cashtry.
"Kritik terhadap pelayanan kesehatan juga penting untuk memperbaiki kualitas, namun kita harus berhati-hati agar pengalaman individual tidak langsung menggeneralisasi seluruh dokter di Indonesia," lanjutnya.
Dr. Cashtry juga menjelaskan bahwa diagnosis medis tidak hanya berdasarkan satu pemeriksaan saja, melainkan keseluruhan perjalanan penyakit pasien dari pemeriksaan fisik, laboratorium, hingga pemeriksaan penunjang seperti USG atau CT scan.
"Diagnosis ini tidak ditentukan hanya oleh satu pemeriksaan. Dokter akan melihat keseluruhan perjalanan penyakit pasien berdasarkan pemeriksaan fisik, laboratorium, serta pemeriksaan penunjang sesuai indikasi," katanya.
Menurutnya, kesimpulan salah diagnosis tidak bisa diambil hanya dari satu hasil pemeriksaan atau membandingkan dua fasilitas kesehatan yang berbeda. Diperlukan penelusuran menyeluruh terhadap rekam medis untuk menentukan ada tidaknya kesalahan diagnosis.
"Untuk mengatakan benar terjadi kesalahan diagnosis, kita harus melihat keseluruhan rekam medis, kronologis klinis, hasil pemeriksaan, pertimbangan dokter saat itu, serta standar profesi yang berlaku," jelas dr. Cashtry.
Fahira Almira menanggapi perbedaan diagnosis antara fasilitas kesehatan di Indonesia dan rumah sakit di Penang dengan mengatakan perbedaan itu tidak otomatis berarti salah satu dokter melakukan kesalahan.
"Kondisi pasien dapat berubah, pemeriksaan dilakukan pada waktu berbeda, modalitas pemeriksaan juga berbeda, dan interpretasi klinis bergantung pada kondisi pasien saat diperiksa," ujar Fahira.
Dia menilai perdebatan sebaiknya tidak diarahkan untuk mempertentangkan dokter Indonesia dengan dokter luar negeri.
"Yang paling sehat bukan mempertentangkan dokter Indonesia dengan dokter luar negeri. Yang harus dicari adalah kondisi medis pasien berdasarkan rekam medis lengkap," tambahnya.
Dr. Cashtry juga membantah anggapan dokter Indonesia terlalu mengandalkan hasil laboratorium dalam menentukan diagnosis. Menurutnya, pemeriksaan fisik, laboratorium, dan pencitraan memiliki fungsi masing-masing dalam proses diagnosis.
"Ini tidak tepat, karena dokter tidak memilih antara hasil laboratorium, pemeriksaan fisik, dan imaging. Semua memiliki fungsi masing-masing," ujarnya.
Dia mencontohkan kasus dugaan apendisitis, di mana diagnosis memerlukan integrasi berbagai informasi klinis dan pemeriksaan penunjang sesuai standar internasional.
"Diagnosis apendisitis membutuhkan integrasi informasi klinis dan pemeriksaan penunjang, bahkan standar internasional sekalipun," jelas dr. Cashtry.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow