Lithuania Temukan 12 Terowongan Migran dari Belarus di Perbatasan

Smallest Font
Largest Font

Penjaga perbatasan Lithuania menemukan 12 terowongan bawah tanah yang digunakan migran untuk masuk secara ilegal dari Belarus. Terowongan ini tersebar di sepanjang perbatasan yang panjangnya sekitar 700 kilometer, dengan 550 kilometer telah dipagari, kata dilansir dari Detikcom.

Terowongan di sisi Lithuania memiliki panjang hingga 25 meter. Penjaga perbatasan menangkap sekitar 40 migran yang keluar dari terowongan tersebut, sementara 1.652 upaya masuk ilegal tercatat pada 2025.

Jenderal Rustamas Liubajevas, komandan Badan Penjaga Perbatasan Negara Lithuania, mengatakan sistem seismik darat mereka mampu mendeteksi aktivitas penggalian terowongan. "Kami menunggu di luar terowongan hingga penggalian mencapai tahap akhir. Ketika para migran keluar, kami menangkap mereka," ujar Liubajevas.

Ia juga heran migran memilih menyeberang melalui bawah tanah dengan risiko tinggi. "Dibutuhkan banyak upaya untuk menggali terowongan, sementara para migran hampir langsung ditangkap. Paling banyak, hanya satu kelompok kecil yang berhasil lolos," kata Liubajevas.

Liubajevas meyakini para migran tidak bekerja sendiri karena membutuhkan dukungan logistik dari otoritas Belarus, terutama material seperti kayu untuk memperkuat dinding terowongan. Ia menegaskan Belarus ingin mempertahankan ketegangan tinggi di perbatasan.

Presiden Belarus Alexander Lukashenko membantah memfasilitasi arus migrasi ke negara tetangga. Terowongan serupa juga ditemukan di Polandia, negara tetangga Lithuania.

Margarita Seselgyte, Direktur Institute of International Relations and Political Science di Vilnius University, setuju bahwa Belarus mengawasi perbatasannya ketat dan bukan bagian dari rute migrasi alami. Namun, Minsk membiarkan aktivitas penggalian berlangsung tanpa tindakan.

"Terowongan tersebut merupakan serangan hibrida untuk menimbulkan kecemasan di masyarakat kami," ujar Seselgyte. Ia menambahkan, "Ketika Lithuania menutup celah dan memperkuat pagar perbatasannya, Belarus kini membantu para migran melewatinya dari bawah."

Seselgyte melihat Minsk mendukung Moskow yang menginvasi Ukraina sejak Februari 2022 dari wilayah Belarus. "Lithuania sangat vokal dalam pertahanan terhadap Rusia, dan mereka ingin membungkam suara tersebut dengan menciptakan kekacauan di negara kami," katanya.

Linas Kojala, CEO Geopolitics and Security Studies Center di Vilnius, menyebut terowongan ini sebagai "fase lain dari serangan dengan menggunakan migrasi sebagai senjata" sejak 2021. Pada saat itu, puluhan ribu migran masuk ke negara Baltik melalui Belarus.

Menurut Kojala, meskipun migrasi ilegal menurun, angka tersebut tidak akan nol tanpa penanganan dari sisi Belarus. "Belarus jelas berusaha menciptakan sebanyak mungkin masalah," ujarnya.

Robert Gonzci, analis di Migration Research Institute Budapest, menuturkan migrasi telah lama digunakan sebagai alat strategis untuk memberikan tekanan kepada negara lain secara berisiko rendah dan murah.

Gonzci menambahkan jaringan penyelundup yang bekerja independen mungkin terlibat dalam penggalian terowongan, bukan sepenuhnya di bawah kontrol Belarus. Ia mengatakan Belarus dan Rusia menggunakan migrasi untuk mengalihkan perhatian Barat dan menciptakan ketidakstabilan di wilayah NATO timur.

Para pakar sepakat negara-negara di sayap timur Uni Eropa menangani tantangan ini dengan baik melalui kerja sama dan koordinasi, serta dukungan teknis dari misi Uni Eropa Frontex dan negara tetangga.

Liubajevas menyatakan Lithuania sedang menguji peralatan pemindai dari Polandia untuk mendeteksi ruang kosong di bawah tanah dan berencana menggunakannya jika efektif.

Follow pdamtirtasukapura.co.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed