Menteri Kehutanan Tegaskan Larangan Karhutla di TNGGP dan Bromo
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di Alun-alun Suryakencana, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), serta lahan seluas 120 hektare di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), dilansir dari Detik Travel.
Jalur pendakian di TNGGP ditutup sementara sejak 7 hingga 11 Agustus 2026 akibat karhutla yang telah padam, sementara dua helikopter water bombing dikerahkan untuk menangani api di Bromo.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan pemerintah untuk melindungi masyarakat dari ancaman karhutla yang berpotensi meningkat di musim kemarau ini.
"Perintah Bapak Presiden Prabowo Subianto jelas, pemerintah siap melindungi warga negara kita dari ancaman kebakaran hutan dan lahan. Negara hadir untuk mencegah kebakaran hutan," kata Menhut Raja Antoni.
Ia mengingatkan dampak negatif karhutla tidak hanya merusak hutan, tetapi juga mengganggu kesehatan masyarakat seperti memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), menutup sekolah, menghambat aktivitas ekonomi, dan mengganggu operasional bandara.
"Ini tidak boleh terjadi lagi," tegas Menhut.
Menurut Raja Juli Antoni, pengendalian karhutla hanya dapat berhasil dengan kolaborasi berbagai pihak seperti Manggala Agni, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, dan masyarakat peduli api.
"Terus jalin komunikasi dan kolaborasi yang baik. Hanya dengan kolaborasi, persoalan besar seperti karhutla dapat kita selesaikan bersama," ujarnya.
Untuk memperkuat pengendalian karhutla, Indonesia bekerjasama dengan Korea Selatan membangun Indonesia Forest and Land Fire Management Center di Daops Manggala Agni Sumatera XVII/OKI, Sumatera Selatan.
Menhut menyatakan pusat ini diharapkan meningkatkan kapasitas Indonesia dalam menghadapi kebakaran hutan yang semakin kompleks akibat perubahan iklim.
"Banyak inisiatif yang akan kita kerjasamakan, tapi salah satunya memang memfinalisasi Forest and Land Fire Management Center yang baru saja kita lihat ini. Mudah-mudahan nanti Park Eun-Sik datang ke Indonesia untuk memperpanjang kerja sama, sekaligus meresmikan Forest and Land Fire Management Center yang ada di sini," kata Menhut.
Kerja sama ini akan terus diperluas karena dampak asap karhutla dapat melintasi batas wilayah dan negara, sehingga penanganannya membutuhkan kolaborasi internasional.
"Karena asap hasil kebakaran hutan itu tidak mengerti wilayah administratif. Kebakarannya di OKI, tapi bisa dirasakan di daerah lain, bahkan sampai luar negeri. Asap itu bisa melampaui lintas batas negara," ujar Menhut.
Pengalaman Indonesia dalam menghadapi karhutla menunjukkan perbaikan tiap tahun, dan pemerintah menargetkan luas kebakaran tetap ditekan meski ancaman El Nino datang lebih cepat akibat perubahan iklim.
"Mudah-mudahan tahun ini kita bisa membuktikan bahwa meskipun El Nino datang lebih cepat, angka karhutla jauh lebih rendah dibandingkan 2023, dengan dampak yang seminimal mungkin bagi masyarakat," tutup Raja Juli.
Sementara itu, Co-Director Korea Indonesia Forest Center (KIFC), Jeong Cheol-Ho, menyatakan pusat pengendalian karhutla ini hasil kerja sama selama lima tahun antara Indonesia dan Korea Selatan.
"Lima tahun lalu kita duduk bersama untuk mencari cara terbaik mengatasi kebakaran hutan di Indonesia. Kita berbagi ide, teknologi, dan pengalaman. Hari ini hasil dari kerja keras kita adalah Pusat Manajemen Kebakaran Hutan ini. Tapi yang lebih berharga dari fasilitas ini adalah semangat, pikiran, dan kerja sama yang ada di dalamnya," kata Jeong.
Jeong memastikan kerja sama di bidang pengendalian karhutla akan terus berlanjut ke tahun-tahun berikutnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow