Menteri Kesehatan Siapkan Insentif untuk Dokter Gigi di Puskesmas

Smallest Font
Largest Font

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyiapkan skema insentif khusus untuk dokter dan dokter gigi guna mengatasi persoalan pemerataan tenaga kesehatan di daerah, dilansir dari Bloombergtechnoz.

Skema insentif ini mengikuti model tunjangan dokter spesialis senilai sekitar Rp30 juta per bulan. Saat ini, sekitar 4.000 puskesmas di Indonesia belum memiliki dokter gigi, termasuk wilayah yang bukan kategori daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

"Salah satu masalah kesehatan gigi kita adalah masalah kesehatan yang paling tinggi di CKG. Begitu kita lihat, sekitar 4.000 puskesmas kita tidak ada dokter giginya," ujar Budi dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI, Kamis (27/8/2026).

Budi mencontohkan Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, yang bukan daerah 3T, namun sudah sekitar lima tahun tidak memiliki dokter gigi di puskesmas karena tidak ada dokter yang bersedia ditempatkan di sana.

"Jadi, kita sekarang sedang mencari bagaimana memberikan insentif. Ada tunjangan khusus, mengikuti modelnya dokter dan dokter spesialis, untuk dokter dan dokter gigi dulu," tambahnya.

Menurut Budi, skema insentif ini masih dalam tahap penghitungan dan finalisasi, dan diharapkan segera dapat diterapkan.

"Sekarang kita sudah menghitung dan melakukan finalisasi. Mudah-mudahan sebentar lagi bisa selesai untuk dokter dan dokter gigi," kata Budi.

Pemberian insentif tidak hanya difokuskan pada daerah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan (DTPK) atau 3T, tetapi juga di puskesmas yang selama ini kekurangan atau bahkan tidak memiliki dokter.

"Ekspansinya bukan hanya di daerah DTPK atau 3T, tapi juga di puskesmas-puskesmas yang selama ini kosong," jelas Budi.

Skema ini akan dievaluasi secara berkala agar insentif dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing daerah. Jika suatu daerah sudah memiliki cukup dokter gigi, insentif dapat dialihkan ke wilayah lain yang masih kekurangan.

"Saya tekankan di sini ke teman-teman, ini harus dibuat variabel dan di-review setiap tahun. Jadi, kalau misalnya daerah Kuningan nantinya sudah banyak dokter giginya, kita harus punya keberanian untuk mengalihkan," ujar Budi.

Selain itu, Kemenkes akan memperbanyak program beasiswa pendidikan bagi tenaga kesehatan, termasuk beasiswa S1 dan fellowship jenjang S2.

Namun, kriteria penerima beasiswa akan diperketat agar benar-benar menyasar daerah yang kekurangan tenaga kesehatan.

"Beasiswa Kemenkes akan lebih sulit. Maksudnya, kriterianya akan lebih stringent, benar-benar yang daerah tidak ada," kata Budi.

Contoh prioritas diberikan kepada calon penerima beasiswa yang berasal dari daerah dengan kekurangan dokter gigi, dibandingkan calon dari Jakarta yang mendapat rekomendasi untuk ditempatkan di daerah tersebut.

"Jadi, orang Sumbawa, itu karena tidak ada dokter gigi, prioritas satu. Orang Jakarta yang dapat rekomendasi dari Pak Melki, Gubernur NTT, prioritas dua," tambah Budi.

Budi menegaskan kebijakan ini bertujuan agar beasiswa Kemenkes tidak hanya menghasilkan tenaga kesehatan, tetapi juga membantu menyelesaikan persoalan distribusi dokter di Indonesia.

"Jadi, nanti kita akan perketat agar beasiswa ini diarahkan untuk menyelesaikan masalah distribusi dari dokter-dokter," ujarnya.

Budi juga berencana menghidupkan kembali program dokter teladan sebagai bentuk penghargaan bagi tenaga medis yang bekerja di daerah.

"Kita ingin membangun lagi sistem dokter-dokter teladan ini, sehingga orang-orang yang bekerja di daerah itu memang mendapatkan rekognisi yang berbeda," kata Budi.

Penghargaan tersebut nantinya berupa kesempatan pendidikan yang berbeda, termasuk prioritas mengikuti program pendidikan spesialis berbasis rumah sakit atau hospital-based.

"Kalau perlu, beasiswa pendidikannya berbeda. Dan kalau perlu, saya bilang ke Pak Aco, bisa kerja di rumah sakit Kemenkes," ujarnya.

Dokter-dokter teladan dari daerah juga menjadi prioritas dalam program pendidikan spesialis tersebut.

"Dokter-dokter teladan ini kita ikutkan kepada program pendidikan spesialis yang hospital-based. Prioritasnya adalah dokter-dokter teladan dari daerah-daerah ini," tutup Budi.

Follow pdamtirtasukapura.co.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed