MPR Sosialisasi Empat Pilar Berbasis Komunitas untuk Guru PAUD
Satu ruang kelas, banyak nilai
Di Artotel Suites Aquila Bandung, pada Sabtu, acara sosialisasi tidak dimulai dari konsep besar yang jauh dari keseharian. Ia justru diberi pijakan: kebiasaan kecil yang bisa diajarkan guru kepada anak-anak sejak dini—sebelum pengaruh lain datang, sebelum kebiasaan baru terbentuk tanpa arah.
“Semakin cepat kita mengenalkan empat pilar kepada mereka, semakin besar peluang, keberhasilan kita menanamkan kebaikan pada mereka. Itu artinya semakin cepat semakin baik, sebelum mereka mengenal nilai-nilai lain di luar sana,” katanya.
Kalimat itu disampaikan Lia Yuliani, Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam Istri (Persistri), ketika meminta para guru PAUD Persatuan Islam Istri menjadi duta empat pilar.
Dalam gagasan Lia Yuliani, sosialisasi bukan hanya kegiatan sesaat. Nilai-nilai yang hendak ditanamkan perlu berangkat dari orang-orang terdekat. Keluarga, tetangga, dan saudara diposisikan sebagai kanal yang paling awal—agar saat guru mengenalkan empat pilar di sekolah, lingkungan rumah lebih dulu telah melaksanakan.
“Orang terdekatlah yang diprioritaskan, agar ketika mulai mengenalkan kepada lingkungan, keluarga kita terlebih dahulu sudah melaksanakannya,” tutupnya.
Di sisi penyelenggara, Badan Sosialisasi MPR RI bekerja sama dengan Persistri menggelar Sosialisasi Empat Pilar Berbasis Komunitas. Sebanyak 250 guru PAUD Persatuan Islam Istri se Bandung Raya, Garut, dan Sumedang hadir sejak awal hingga akhir, menjadikan pertemuan itu semacam jembatan antara kebijakan dan ruang belajar.
Empat pilar: ditanamkan konsisten
Sosialisasi ini dibuka oleh Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR RI, Muhammad Hoerudin Amin. Dalam sambutannya, Hoerudin mengingatkan bangsa yang tercerabut dari nilai dasar dan ideologinya bergerak menuju kehancuran.
“Karena nilai nilai itulah negara Indonesia yang beragam, ini masih terus bersatu, luput dari ancaman perpecahan yang terus muncul bergantian. Dan sampai kapanpun, kita akan terus menjaga, mempertahankan dan mengajarkannya kepada generasi muda, agar Indonesia yang kita cintai senantiasa lestari,” ujar Hoerudin, dalam keterangannya, Minggu (16/8/2026).
Ia menegaskan bahwa arus nilai-nilai asing yang terus berdatangan perlu diimbangi dengan penanaman Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai konstitusi, NKRI sebagai bentuk negara, serta Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan.
Acara digelar di Artotel Suites Aquila Bandung pada Sabtu (15/8), lalu informasi kegiatan dipublikasikan dalam keterangannya pada Minggu (16/8/2026). Dalam kesempatan tersebut, Hoerudin juga menggambarkan bagaimana persatuan tidak terjadi otomatis, melainkan dipelihara lewat pengajaran.
Dari hal sederhana: kebersihan, tolong-menolong, toleransi
Hoerudin Amin menempatkan guru PAUD sebagai ujung tombak penerjemahan empat pilar ke dalam praktik sehari-hari. Ia berharap para guru bersedia mengajarkan nilai-nilai Empat Pilar MPR kepada anak sejak dini—mulai dari hal-hal yang tampak kecil.
“Kalau nilai-nilai kebaikan, itu sudah menjadi kebiasaan sejak kecil, maka saat mereka sudah besar telah mendarah daging menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga tanpa diminta mereka akan melaksanakan nilai nilai kebaikan itu sebagai panggilan hati,” ujar Hoerudin Amin.
Menurut Hoerudin, proses pengajaran dapat dimulai dari menjaga kebersihan, saling tolong, bekerja sama, serta toleransi. Nilai-nilai itu dianggap berfungsi sebagai fondasi: ketika sudah menjadi kebiasaan, anak kelak menjalankannya secara wajar dalam rutinitas.
Dalam logika tersebut, sosialisasi empat pilar tidak berhenti pada penjelasan konsep. Ia diarahkan menjadi kebiasaan sosial. Anak dikenalkan cara hidup bersama, cara memelihara ruang belajar yang bersih, serta sikap menolong dan menghargai perbedaan.
Guru sebagai duta: edukasi dari rumah ke masyarakat
Selain Lia Yuliani, pada acara tersebut juga ada struktur penanggung jawab dari Badan Sosialisasi MPR. Lia menekankan bahwa para guru PAUD bukan sekadar peserta, melainkan duta yang perlu terlibat aktif.
Gagasan ini meluas pada cakupan edukasi empat pilar. Bukan hanya sekolah yang menjadi ruang transmisi, melainkan lingkungan rumah dan kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, guru diharapkan mampu membantu anak memahami nilai melalui konteks yang mereka kenal: keluarga, tetangga, dan teman bermain.
Semangat serupa diangkat pula oleh tim pembina dari Badan Sosialisasi. Turut hadir dan menjadi pembicara pada acara tersebut Ketua Badan Sosialisasi, Abraham Liyanto, Wakil Ketua Badan Sosialisasi, Abidin Fikri, serta para anggota badan sosialisasi.
Di antara nama yang disebut hadir adalah Chusnunia Chalim, Putih Sari, Sofyan Tanima, Inugraha, Furtasan Ali Yusuf, Zuhri M. Syazali, Evi Apita Maya, Junaidi Aulya, dan M.
Ruang komunitas sebagai cara merawat persatuan
Bagi penyelenggara, model berbasis komunitas memberi arti bahwa sosialisasi tidak cukup dari satu arah. Ia melibatkan jaringan: guru, pengurus lembaga, serta komunitas PAUD yang berada di beberapa wilayah—Bandung Raya, Garut, dan Sumedang.
Dengan kehadiran 250 guru, acara semacam itu bekerja sebagai pengganda. Setiap guru membawa materi dan pendekatan kembali ke kelas-kelas mereka, lalu mengubah pengetahuan menjadi tindakan: kebersihan yang dipraktikkan, tolong-menolong yang dibiasakan, kerja sama yang dilatih, toleransi yang ditunjukkan.
Dari pertemuan di Bandung, narasi kembali diarahkan ke sesuatu yang lebih dekat dengan keseharian anak. Empat pilar diposisikan sebagai nilai yang bisa diajarkan bukan lewat ceramah panjang, melainkan lewat sikap, kebiasaan, dan contoh yang terlihat dalam interaksi harian.
Di akhir rangkaian, baik dorongan dari pihak MPR maupun Persistri bertemu pada satu titik: penanaman nilai harus dilakukan sejak dini, dijalankan konsisten, dan dipelihara melalui lingkungan terdekat. Ketika itu terjadi, persatuan tidak lagi menjadi slogan, melainkan kebiasaan yang tumbuh dalam ingatan anak.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow