Tri Maharani Imbau Waspadai Sengatan Ubur-Ubur di Pantai Selatan Jawa hingga Bali

Smallest Font
Largest Font

Musim kemunculan ubur-ubur biru sedang berlangsung di pantai selatan Pulau Jawa hingga Bali, menyebabkan belasan wisatawan tersengat, terutama anak-anak. Dokter spesialis emergensi dan pakar toksinologi Tri Maharani mengimbau wisatawan untuk lebih waspada saat beraktivitas di pantai, dilansir dari Detik Travel.

Insiden sengatan ubur-ubur terbaru terjadi di kawasan Pantai Selatan Gunungkidul, Yogyakarta, dan Pantai Sanur di Bali. Korban didominasi anak-anak yang tertarik mendekati ubur-ubur karena bentuknya yang menyerupai balon transparan kebiruan.

Tri Maharani, yang biasa disapa Maha, menjelaskan bahwa fenomena ini biasa terjadi pada pertengahan tahun, yaitu antara Juni hingga September, saat ubur-ubur biru bermunculan di pantai-pantai tersebut.

"Juni sampai September itu bulannya ubur-ubur blooming di pantai selatan Pulau Jawa sampai Bali. Akan keluar ubur-ubur biru," ujar Maha.

Meskipun sengatan ubur-ubur biru tidak mematikan, Maha mengingatkan bahwa sengatan tersebut menimbulkan rasa nyeri dan panas yang bisa meninggalkan trauma, khususnya bagi anak-anak.

"Memang ubur-ubur biru itu tidak mematikan, tetapi akan menimbulkan rasa nyeri, rasa panas, dan akan berbayang untuk anak-anak," kata Maha.

Dia menambahkan bahwa banyak anak menjadi korban karena penasaran dengan bentuk ubur-ubur, padahal tentakel ubur-ubur masih dapat menyengat meskipun sudah terdampar di bibir pantai.

Oleh sebab itu, Maha mengimbau orang tua agar tidak membiarkan anak-anak menyentuh ubur-ubur yang ditemukan di pasir.

Tri Maharani juga menyarankan wisatawan untuk membawa perlengkapan sederhana seperti cuka yang dapat digunakan sebagai pertolongan pertama jika tersengat ubur-ubur atau hewan laut lainnya.

"Cuka ini positif untuk hewan laut," ujar Maha.

Namun, cuka yang digunakan sebaiknya tidak pekat. Maha menjelaskan cuka dengan konsentrasi 25 persen perlu diencerkan hingga menjadi sekitar lima persen, misalnya dengan mencampurkan 250 mililiter cuka dengan empat bagian air menjadi satu liter larutan.

"Cuka 250 mililiter ditambah air empat bagian sehingga menjadi sekitar satu liter," kata Maha.

Larutan ini dapat disiramkan pada bagian yang tersengat dan juga berguna untuk pertolongan pertama terhadap sengatan ikan batu, bulu babi, dan ikan pari.

Selain itu, Maha menyarankan wisatawan memakai pakaian renang berlengan panjang atau rash guard untuk mengurangi risiko sengatan ubur-ubur pada kulit.

Dia juga mengingatkan agar wisatawan selalu memperhatikan papan informasi dan peringatan dari petugas pantai selama musim ubur-ubur.

Tri Maharani menilai pengelola destinasi wisata juga harus berperan dalam mengurangi risiko dengan menyediakan informasi bahaya dan perlengkapan pertolongan pertama di lokasi wisata.

"Kalau pergi ke pantai di Malaysia, di pinggir pantainya ada papan pengumuman. Di sebelahnya juga disediakan cuka. Jadi kalau ada yang tersengat, tidak usah menunggu petugas, bisa langsung memberikan pertolongan pertama," ujar Maha.

Maha menegaskan bahwa konsep serupa perlu diterapkan di Indonesia mengingat pantai adalah destinasi wisata paling populer di negara ini.

"Padahal pantai adalah pariwisata yang paling laris di Indonesia," kata Maha.

Dia juga berharap pengelola destinasi memperkuat aspek keselamatan, termasuk edukasi pengunjung agar keselamatan tetap menjadi prioritas utama.

"Keselamatan itu nomor satu. Orang datang berwisata ingin bahagia, jadi mereka juga harus pulang dengan selamat," tutup Maha.

Follow pdamtirtasukapura.co.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow