Donald Trump Klaim AS Kuasai Selat Hormuz Saat Ketegangan Meningkat

Smallest Font
Largest Font

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan AS memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz, sementara Iran tetap menutup selat tersebut dan mensyaratkan pemenuhan tuntutannya sebelum lalu lintas dibuka kembali, Selasa (11/8), dilansir dari Detikcom.

Trump mengatakan, "Kami sepenuhnya mengendalikan Selat Hormuz. Kami menguasainya; tidak ada pihak lain, hanya kami." Ia juga menyatakan ketidakpercayaannya terhadap Iran, "Saya adalah orang terakhir yang mempercayai Iran. Mereka terus-menerus berbohong kepada saya."

Namun, Iran menegaskan Selat Hormuz akan tetap ditutup kecuali AS memenuhi persyaratan Teheran, termasuk mengakhiri blokade pelabuhan dan mencabut sanksi, menurut laporan Reuters.

Ketegangan juga meningkat di jalur pelayaran lain. Otoritas Yaman melaporkan enam orang tewas setelah kelompok Houthi menyerang kapal di Selat Bab el-Mandeb, dengan empat awak kapal dan dua anggota pasukan National Resistance Forces menjadi korban.

Kementerian Transportasi Yaman menyatakan Houthi menembakkan tiga rudal balistik ke kapal komersial tersebut. Ini merupakan kematian pertama diketahui akibat serangan Houthi terhadap pelayaran sejak perang Iran dimulai pada Februari.

Mohammed Abdul-Salam, juru bicara Houthi, menuduh Arab Saudi memanfaatkan gencatan senjata untuk memperketat blokade udara dan laut. Ia mengatakan, "Setiap penyelesaian harus mencakup pencabutan blokade." 

Di Teluk Oman, militer AS menembaki kapal berbendera Panama yang mencoba menerobos blokade pelabuhan Iran. Komando Pusat AS menyatakan helikopter mereka melumpuhkan kapal M/V Vela Nova setelah kapal itu mengabaikan peringatan untuk berhenti.

Komando Pusat AS juga mengalihkan 55 kapal yang berusaha menerobos blokade, melumpuhkan tiga kapal, dan menaiki dua kapal lainnya.

UK Maritime Trade Operations melaporkan aktivitas pelayaran komersial di Selat Hormuz masih rendah akibat serangan dan gangguan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran, yang menunjukkan niat Iran mempertahankan tekanan di jalur transit utama.

Selat Hormuz merupakan jalur penting yang mengangkut sekitar seperlima permintaan minyak dunia serta pengiriman gas alam cair dan pupuk. Serangan yang terjadi telah menurunkan lalu lintas pelayaran dan meningkatkan harga minyak dan gas.

Harga minyak mentah AS naik 0,61 persen menjadi 83,71 dolar AS per barel, sementara Brent naik 0,62 persen menjadi 89,46 dolar AS per barel pada Rabu (12/8). Brent mencatat kenaikan harian keenam berturut-turut.

Kyle Rodda, analis pasar keuangan senior di Capital.com, mengatakan, "Kurangnya berita atau kemajuan substansial dalam pembicaraan, dengan Iran mempertegas komitmennya untuk mengendalikan Selat Hormuz, membuat risiko harga minyak tetap condong ke atas."

Di tengah kebuntuan pembicaraan, Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi mengunjungi Teheran untuk mendorong Iran kembali berunding dengan AS berdasarkan kesepakatan damai sementara yang dimediasi Pakistan pada Juni, menurut Reuters.

Ketegangan di Selat Hormuz juga memengaruhi pasar menjelang data inflasi AS, dengan harga minyak dan emas naik. Harga emas spot naik 0,77 persen menjadi 4.400,44 dolar AS per troy ounce.

Perang di kawasan tersebut belum menunjukkan tanda berakhir meski Trump beberapa kali menyatakan kesepakatan akan segera tercapai. Blokade pelabuhan Iran dan pengendalian Selat Hormuz tetap menjadi hambatan utama penyelesaian konflik.

Follow pdamtirtasukapura.co.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow