Pemberontakan DI/TII Pertama Kali Meletus di Jawa Barat Tahun 1948
Pada 13 Agustus 2026, diperingati bahwa pemberontakan DI/Tentara Islam Indonesia (TII) pertama kali meletus di Jawa Barat pada tahun 1948, sebagai konflik politik pertama pasca kemerdekaan Indonesia yang dipimpin oleh Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo. Gerakan ini muncul menyusul Perjanjian Renville yang dianggap merugikan Indonesia dan berupaya mendirikan Negara Islam Indonesia (NII).
Pemberontakan DI/TII bermula setelah Perjanjian Renville ditandatangani pada 17 Januari 1948, yang mengharuskan Divisi Siliwangi TNI mengosongkan Jawa Barat dan pindah ke Yogyakarta. Kebijakan ini ditolak oleh kelompok Sabilillah dan Hizbullah yang kemudian mendukung Kartosuwirjo mendirikan Tentara Islam Indonesia.
Konferensi Pemimpin Umat Islam di Tasikmalaya pada 10-11 Februari 1948 menghasilkan gagasan pembentukan NII dan Tentara Islam Indonesia. Pada akhir 1948, Kartosuwirjo mengumumkan perang suci total melawan Belanda saat Agresi Militer Belanda II berlangsung, menandai eskalasi konflik bersenjata di Jawa Barat.
Pemimpin dan Proklamasi Negara Islam Indonesia
Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo menjadi tokoh sentral yang memimpin pemberontakan DI/TII. Ia secara resmi memproklamasikan Negara Islam Indonesia pada 7 Agustus 1949 di Tasikmalaya, mempertegas tujuan gerakan ini yang ingin mendirikan negara berdasarkan syariat Islam di wilayah Indonesia.
Penyebaran dan Konflik Bersenjata
Selain di Jawa Barat, gerakan DI/TII juga menyebar ke Jawa Tengah di bawah pimpinan Amir Fatah, yang meletus sejak 23 Agustus 1949 di wilayah Brebes, Tegal, dan Pekalongan. Konflik antara TII, TNI, dan Belanda berlangsung sengit di Jawa Barat hingga pertengahan 1949.
Penumpasan dan Dampak Pemberontakan DI/TII
Pemerintah Republik Indonesia menetapkan DI/TII sebagai organisasi terlarang pada 8 Desember 1950. Penumpasan dilakukan secara intensif oleh Kodam VI Siliwangi pada tahun 1960 melalui operasi pagar betis yang akhirnya berhasil menangkap Kartosuwirjo pada 4 Juni 1962. Kartosuwirjo kemudian dijatuhi hukuman mati oleh Mahkamah Angkatan Darat Jawa Madura.
"Pemberontakan DI/TII merupakan tantangan besar bagi stabilitas negara pasca kemerdekaan, namun pemerintah berhasil menumpasnya melalui operasi militer terencana," ujar sejarawan dari Identif.id.
Relevansi Pemberontakan DI/TII Saat Ini
Pemberontakan DI/TII menjadi bagian penting dari sejarah politik dan keamanan Indonesia, menandai awal konflik ideologi dan perjuangan mempertahankan kedaulatan negara. Pemahaman latar belakang dan kronologi gerakan ini membantu menilai dinamika politik Indonesia pasca kemerdekaan.
| Peristiwa | Tanggal | Lokasi | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Perjanjian Renville | 17 Januari 1948 | Jakarta | Memicu penolakan Divisi Siliwangi di Jawa Barat |
| Konferensi Pemimpin Umat Islam | 10-11 Februari 1948 | Tasikmalaya | Gagasan pembentukan NII dan TII |
| Pengumuman Perang Suci | Akhir 1948 | Jawa Barat | Kartosuwirjo melawan Belanda |
| Proklamasi Negara Islam Indonesia | 7 Agustus 1949 | Tasikmalaya | Pendirian resmi NII oleh Kartosuwirjo |
| Pemberontakan di Jawa Tengah | 23 Agustus 1949 | Brebes, Tegal, Pekalongan | Dipimpin oleh Amir Fatah |
| Penetapan DI/TII terlarang | 8 Desember 1950 | Nasional | DI/TII dilarang oleh pemerintah RI |
| Penangkapan Kartosuwirjo | 4 Juni 1962 | Jawa Barat | Operasi pagar betis Kodam VI Siliwangi |
- Gerakan DI/TII dipelopori oleh Kartosuwirjo di Jawa Barat.
- Perjanjian Renville menjadi pemicu utama pemberontakan.
- Gerakan menyebar ke Jawa Tengah pada 1949.
- Operasi penumpasan berlangsung hingga awal 1960-an.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow