Indosat dan NVIDIA Resmikan Pusat Teknologi AI di UGM Sleman
Indosat Ooredoo Hutchison bersama NVIDIA, Kementerian Komunikasi dan Digital, dan Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi membuka UGM Indosat NVIDIA AI Technology Center (NVAITC) sebagai pusat riset dan inovasi kecerdasan buatan di UGM Sleman.
Pusat teknologi ini merupakan bagian dari Indonesia AI Center of Excellence yang menggabungkan pemerintah, industri, akademisi, dan perusahaan teknologi global untuk mengembangkan talenta AI di Indonesia, dilansir dari Detik iNET.
CEO Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, menyatakan bahwa pembentukan pusat ini berawal dari pembicaraan 15-16 bulan lalu dengan fokus utama pada investasi manusia, riset, dan inovasi, bukan hanya teknologi.
"80% adalah tentang manusia, kemudian baru platform dan teknologi. Karena pada akhirnya, manusia harus menjadi pemimpin dan teknologi harus berpusat pada manusia," ujar Vikram usai peresmian di UGM, Sleman, Kamis (13/8/2026).
Dia juga menyampaikan permintaan langsung kepada CEO NVIDIA Jensen Huang agar pusat AI ini hadir di Indonesia.
"Saya secara pribadi meminta Jensen Huang bahwa kami ingin ini untuk Indonesia," ujar Vikram.
Vikram menegaskan pusat ini tidak hanya bertujuan menghasilkan talenta, tetapi juga menghubungkan talenta dengan peluang agar Indonesia tidak hanya menjadi konsumen teknologi.
"Indonesia tidak boleh menjadi negara yang hanya sebagai konsumsi. Kita harus bergeser," kata Vikram.
Dia mencontohkan penelitian eNose-TB dari UGM yang membantu skrining tuberkulosis dengan biaya rendah, yang berpotensi menyelamatkan banyak nyawa.
"Ini bisa menyelamatkan nyawa dan dapat dilakukan dengan biaya yang lebih rendah. Jadi saya meminta bagaimana kita bisa mengembangkannya dalam skala yang lebih besar," tutur Vikram.
Indosat juga menargetkan pengembangan dua juta talenta AI melalui kolaborasi dengan UGM dan universitas lain.
Namun, Vikram menegaskan NVAITC bukan pusat komersialisasi, karena Indosat memiliki layanan komersial lain seperti GPU-as-a-Service dan Token-as-a-Service.
"Di sini lebih kepada bagaimana kita mengembangkan riset dan talenta. Kalau Indonesia ingin maju sebagai negara, kita harus berinvestasi pada talenta," jelas Vikram.
Rektor UGM Prof Ova Emilia menyatakan kehadiran NVAITC akan memperkuat riset AI yang sudah dilakukan UGM yang saat ini lebih dari 50 persen riset mahasiswa berkaitan dengan AI.
"Lebih dari 50 persen risetnya itu terkait dengan AI, berhubungan dengan AI dalam aplikasi dalam berbagai keilmuan," kata Ova.
Dia menambahkan pengembangan AI di UGM juga meliputi bidang kesehatan, sosial-humaniora, pertanian, hingga teknik.
NVAITC juga terbuka untuk kolaborasi dengan universitas lain sebagai ruang bersama pengembangan riset AI di Indonesia.
"Ini bukan hanya milik UGM. Universitas mana pun juga dapat memakai, bekerja sama dan ikut bergabung di dalam riset-riset ini," pungkas Ova.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow