Wamen Pendidikan Ungkap Tiga Kunci Sukses Sarjana di Era AI di ITS

Smallest Font
Largest Font

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menyampaikan tiga kunci utama agar sarjana bisa sukses di era artificial intelligence (AI) kepada mahasiswa baru Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Kamis (6/8/2026), dilansir dari Detikcom. Stella menjelaskan AI memiliki akses instan ke seluruh data dan fakta dunia, namun tidak mampu menyeleksi atau mengkurasi informasi yang bermakna dan berguna. Menurut Stella, kemampuan kurasi pengetahuan menjadi pembeda utama antara manusia dan AI, serta peran penting akademisi untuk menyaring esensi kebenaran yang bernilai bagi peradaban.

"Kurasi pengetahuan inilah yang membedakan antara manusia dengan AI, dan akademisi bertugas menyaring esensi kebenaran yang paling bernilai bagi peradaban," ujar Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Ia mengimbau mahasiswa untuk fokus memaksimalkan proses belajar di kampus guna meningkatkan kapasitas diri dan menjadi pribadi unggul. Stella menambahkan, kampus berfungsi menempa kesiapan mental, jejaring profesional, dan ketajaman analisis manusia yang tidak bisa direplikasi komputer demi membentuk tenaga kerja kompeten.

Adapun tiga kunci sukses sarjana di era AI menurut Stella adalah kapasitas lulusan mengoptimalkan potensi diri, penguasaan seni kurasi pengetahuan, dan kemampuan menghadirkan solusi kreatif yang berdampak bagi kemajuan bangsa.

"Jadi mahasiswa ITS diharapkan mampu menjadi insan yang tangguh, inovatif, dan tidak tergantikan oleh kemajuan teknologi," kata Stella Christie.

Stella juga menyoroti pentingnya melihat AI dari sisi keberlanjutan. Ia mengingatkan agar mahasiswa tidak terjebak optimisme berlebihan terhadap AI yang menurutnya bisa menyerupai fenomena gelembung ekonomi seperti yang terjadi pada perdagangan tulip di Belanda dan gelembung dot-com abad ke-18.

"Kini hampir semua persoalan dijawab AI dan dapat menjadi indikasi yang layak dikaji sebagai wujud gelembung teknologi yang dapat pecah sewaktu-waktu," ujar Stella. Dari sisi keberlanjutan, Stella mengungkapkan bahwa pusat data AI membutuhkan listrik dan air dalam jumlah besar, setara dengan negara besar, yang harus menjadi pertimbangan sebelum memanfaatkan AI secara masif.

Ia menegaskan mahasiswa harus berpikir kritis, memahami batasan dan dampak nyata dari adopsi AI, bukan sekadar menjadi pengguna atau juru bicara teknologi.

Selain itu, Stella menyinggung dampak AI yang mulai menggerus peran manusia di berbagai bidang, termasuk lulusan komputer yang sebelumnya dianggap paling aman dari tantangan AI.

"Maka, keberhasilan dan nilai dari berkuliah tidak lagi diukur dari ijazah, namun kemampuan nyata individu agar tidak tergantikan oleh AI," tutup Stella Christie.

Follow pdamtirtasukapura.co.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow