Wamendikbud Stella Christie Bagikan Pengalaman Kegagalan dan Kesuksesan Kuliah di Harvard
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, membagikan pengalaman perjalanan pendidikannya selama 26,5 tahun dalam acara Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (PKKMB UPNVJ) 2026, Senin (10/8/2026).
Dalam kesempatan itu, Stella menekankan bahwa perjalanan kuliah tidak selalu mulus dan akan diwarnai berbagai tantangan seperti kegagalan, kesulitan, kekecewaan, kesedihan, hingga rasa putus asa, yang semua itu adalah bagian dari proses untuk menjadi pribadi lebih kuat.
"Akan ada kegagalan, akan ada kesulitan, akan ada kekecewaan hati, akan ada banyak yang mungkin kalian merasa sedih, merasa putus asa. Tetapi yakinlah badai pasti berlalu," ujar Stella.
Ia juga menambahkan, "Dan jika kalian mampu melalui kesulitan-kesulitan itu, kalian justru akan menjadi lebih kuat. Saya pun pernah mengalami kesulitan."
Stella membagikan pengalamannya saat menempuh pendidikan sarjana di Harvard University, Amerika Serikat, termasuk kegagalannya mendapatkan nilai C pada mata kuliah kimia organik, yang tercatat dalam transkrip akademiknya.
Awalnya ia ingin menjadi ekonom, lalu sempat berpikir untuk menjadi dokter. Namun, Harvard tidak memiliki program kedokteran sarjana sehingga ia harus mengikuti program pre-medical dan mengambil mata kuliah pendukung seperti kimia organik.
"Kalau di Harvard tidak ada jurusan kedokteran, harus pre-med dulu baru bisa. Tapi harus ambil organic chemistry, 'orgo', kimia organik. Terus saya ngotot ambil kimia organik tapi malah dapat C. Jadi gagal," ujar Stella.
Pengalaman kegagalan tersebut justru membantunya mengenali bidang yang sesuai dengan minat dan kemampuannya. "Tapi kegagalan itu membuat saya mengerti ini bukan bidang saya dan saya harus tahu apa yang saya sukai dan saya mampu dan yang saya bisa tekuni," katanya.
Setelah itu, Stella memilih jurusan Perilaku Otak-Pikiran (Mind-Brain Behavior) dan berhasil lulus dengan predikat Magna cum laude with Highest Honors, satu-satunya lulusan sarjana asal Indonesia pada tahun itu dengan penghargaan tersebut.
"Setelah itu bisa bangkit lagi. Saya lulus dari Harvard University, satu-satunya orang Indonesia loh S1 pada tahun itu dengan Magna cum laude with Highest Honors. Penghargaan kedua tertinggi setelah Summa cum laude," ujar pakar ilmu kognitif itu.
Semua fakta tersebut dilansir dari Detikcom.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow