Bakti Komdigi Perluas Akses Internet di Wilayah 3T untuk Tingkatkan Pelayanan Publik

Smallest Font
Largest Font

Wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) menghadapi tantangan besar dalam mengakses internet sebelum hadirnya infrastruktur telekomunikasi. Kondisi ini terjadi di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, di mana masyarakat harus menempuh jarak jauh hingga naik pohon untuk mendapatkan sinyal.

Kepala Dinas Kominfo Flores Timur Silvester Suban Toa Kabelen mengatakan, "Masyarakat kami atau teman-teman di sekolah, bahkan fasilitas kesehatan, Puskesmas, Pustu, harus menjangkau berkilometer-kilometer jarak untuk mendapatkan tempat bersinyal sehingga bisa mengakses informasi, memberikan laporan, menyampaikan data." Ia juga menambahkan, "Kadang naik pohon karena di bawah tidak ada sinyal, jadi harus naik pohon."

Perjuangan mendapatkan sinyal tersebut membuat komunikasi dan aktivitas digital di sekolah, fasilitas kesehatan, serta pemerintahan sangat terbatas. Namun, situasi mulai berubah setelah pembangunan enam BTS dan sekitar 262 akses internet di berbagai fasilitas di Flores Timur.

Kepala SMAN 1 Titehena, Konradus Kudarto, menyatakan internet kini menjadi kebutuhan utama sekolah karena semua aktivitas telah berbasis digital. Ia berharap ada peningkatan kapasitas jaringan, sebab saat asesmen yang melibatkan 450 siswa dan 50 guru sekaligus, koneksi seringkali terbatas. "Saya datang dengan harapan besar supaya ada peningkatan kapasitasnya. Sudah ada di lapangan, tapi ada sesuatu yang harus dibenahi supaya itu bisa dimaksimalkan," ujar Konradus.

Perubahan serupa juga dialami masyarakat di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, yang kini dapat mengakses informasi harga komoditas pertanian dari tingkat provinsi hingga kecamatan. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kominfo Parigi Moutong, Khairuddin, menjelaskan, "Tapi dengan adanya bantuan dari BAKTI, masyarakat sudah bisa mengakses semua informasi-informasi yang ada, khususnya di provinsi, kabupaten sampai di kecamatan."

Kepala Desa Baina Barat, Yuslan, mengatakan informasi harga membantu petani memilih pembeli terbaik. Internet juga digunakan untuk mengembangkan usaha lokal dengan mempromosikan produk melalui media sosial. "Mudah aksesnya untuk mereka mendapatkan misalnya seperti makanan yang dibuat kemudian dijual, kemudian mereka posting di foto, posting kemudian dikirim di media sosial," kata Yuslan.

Bakti Komdigi yang merupakan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi Kementerian Komunikasi dan Digital membangun infrastruktur untuk wilayah sulit jangkau. Direktur Utama Bakti Komdigi, Fadhilah Mathar, menyebut kehadiran Satelit Republik Indonesia (Satria-1) berkapasitas 150 Gbps memungkinkan kombinasi jaringan terestrial dan nonterestrial mempercepat konektivitas. "Hal lain yang membuat kami dapat mempercepat penggelaran konektivitas digital itu adalah kehadiran Satria-1. Kehadiran Satria-1 ini membuat kita bisa menggabungkan solusi terestrial dengan solusi non-terestrial pada saat wilayah-wilayah itu memang masih sangat sulit," ujar Fadhilah.

Selain itu, Bakti Komdigi mengandalkan jaringan serat optik Palapa Ring sepanjang 12.148 kilometer yang melayani 131 titik Network Operation Center di 57 kabupaten/kota di Indonesia. Melalui program Bakti Aksi dan Bakti Sinyal, akses internet gratis dan pembangunan BTS 4G telah direalisasikan di ribuan titik layanan publik dan wilayah 3T.

Fadhilah menambahkan, "Bakti telah membangun akses internet di lebih dari 31.000 lokasi. Sekitar 68% berada di sektor pendidikan, kemudian sektor kesehatan sebesar 5,89% untuk mendukung e-government."

Follow pdamtirtasukapura.co.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow