BGN Tindak Tegas Kelalaian Keamanan Pangan MBG di Karo Sumut
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengungkap dugaan kelalaian serius dalam pengelolaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Penemuan ini berdasarkan investigasi yang menyebutkan sekitar 200-300 ekor ikan tidak disimpan dalam freezer dan dibiarkan di suhu ruang lebih dari 12 jam.
"Jadi bahan baku ikan itu sebagian besar dimasukkan ke freezer, ada sekitar 300 atau 200 atau 300 ekor yang tidak masuk ke freezer itu kemudian ditaruh di suhu ruangan dalam kurun waktu 12 sampai lebih dari 12 jam," ujar Sudaryono saat mengunjungi korban di Rumah Sakit Haji Medan, dilansir dari Bloombergtechnoz.
Sudaryono menegaskan bahwa kelalaian ini tidak dapat ditoleransi karena menyangkut keselamatan penerima manfaat MBG. "Tidak boleh ada kelalaian, tidak boleh! Zero tolerance, enggak boleh lalai!" tegasnya.
Atas insiden ini, BGN siap menjatuhkan sanksi tegas, termasuk penghentian operasional dapur yang bersangkutan serta pemecatan tidak hormat terhadap Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berstatus ASN jika terbukti lalai.
"Sanksinya yang pertama, dapurnya disuspend berat. Kemudian, Kepala SPPG-nya, sanksi yang bisa saya berikan bukan hanya pencopotan, tetapi saya ajukan pemecatan dengan tidak hormat melalui Badan Kepegawaian Negara atas status ASN-nya. Karena ini sudah menyangkut (nyawa)," kata Sudaryono.
Dia juga membuka kemungkinan menyerahkan kasus ini ke aparat penegak hukum apabila ditemukan indikasi kelalaian yang perlu diproses secara hukum. Sudaryono menegaskan pentingnya seluruh prosedur operasional standar (SOP) dijalankan dengan ketat demi melindungi keselamatan penerima manfaat MBG.
"Ini juga peringatan bagi yang lain, harus ekstra hati-hati dan kerja dengan sebaik-baiknya. Kalau enggak bisa, kau mundur. Ya.
Kalau merasa enggak mampu, mundur. Jangan nyawa orang jadi permainan," ujarnya.
Sudaryono meminta petugas yang merasa tidak mampu menjalankan tugasnya agar mundur demi menghindari risiko bagi penerima manfaat. "Kalau enggak mampu jadi kepala dapur, kalau enggak mampu jadi chef, kalau enggak mampu jadi jadi petugas di situ, kau mundur aja. Karena nyawa seseorang enggak bisa dipertaruhkan," tegasnya.
Terkait kondisi korban, Sudaryono melaporkan bahwa salah satu korban yang dirawat di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) Rumah Sakit Haji Medan mulai menunjukkan perbaikan setelah tiga hari menjalani perawatan, meski masih memerlukan penanganan intensif.
"Kondisi (korban) di sini sudah dua hari, ini hari yang ketiga. Menurut laporan, sudah membaik. Jadi, dibandingkan dengan pertama kali masuk, kemarin, dan hari ini, sudah lebih baik.
Tapi memang masih di ICU," katanya. "Saya berharap sesegera mungkin bisa betul-betul membaik dalam satu sampai dua hari ini. Enggak usah dua hari lah, kalau bisa satu hari," tambahnya.
Insiden ini bermula di SMA Negeri 1 Berastagi, Kabupaten Karo, di mana sejumlah siswa diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG. Pemerintah Kabupaten Karo menyatakan kesiapan bertanggung jawab atas penanganan korban.
Kasus ini menjadi fokus BGN karena melibatkan banyak penerima manfaat. Investigasi mendalam dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab insiden, termasuk proses penyimpanan dan pengolahan makanan.
BGN akan memperketat penerapan prosedur keamanan pangan di seluruh dapur MBG secara nasional. Sekitar 27.000 kepala dapur SPPG di Indonesia diminta memperhatikan setiap tahap pengolahan makanan dengan serius.
Insiden di Karo menambah daftar dugaan keracunan dalam pelaksanaan MBG di beberapa daerah, termasuk Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, di mana ratusan siswa sebelumnya juga mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi MBG.
BGN menegaskan evaluasi berkelanjutan terhadap standar keamanan pangan akan terus dilakukan untuk mencegah kejadian serupa terulang.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow