Gelombang Tinggi Hantam Pantai Selatan Jawa hingga Bali pada Agustus 2026
Gelombang tinggi hingga 6 meter melanda pantai-pantai di selatan Jawa dan Bali, mulai dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sampai Bali, sejak awal Agustus 2026, seperti dilansir dari Detik Travel.
Pantai-pantai di DIY, termasuk Baron, Gesing, dan Glagah, mengalami gelombang yang melewati garis pasang surut sejak Senin (10/8/2026). Tinggi gelombang tunggal ini hampir dua kali lipat dari angka peringatan resmi 2,5-4 meter.
Widodo Pranowo, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, menjelaskan bahwa tinggi gelombang signifikan mencapai 3,32 meter pada puncaknya Selasa (11/8/2026) pukul 01.00 WIB, dengan kondisi ini bertahan selama 39 jam.
"Analisis menunjukkan tinggi gelombang di perairan selatan Gunungkidul mulai melewati ambang bahaya 2,5 meter pada Senin (10/8/2026) pukul 13.00 WIB dan mengalami puncak ketinggian pada Selasa (11/8/2026) pukul 01.00 WIB, dengan tinggi gelombang signifikan 3,32 meter," ujar Widodo.
Menurutnya, metode statistik Rayleigh memperkirakan gelombang maksimum mencapai 6,16 meter, hampir sama dengan data model global.
"Saya coba melakukan perhitungan pembanding dengan metode statistik Rayleigh, memberikan tinggi gelombang maksimum 6,16 meter, atau selisih sekitar 2,7 persen saja dari data model global," kata Widodo.
Widodo menjelaskan tinggi gelombang signifikan adalah rata-rata sepertiga gelombang tertinggi dan bukan gelombang terbesar. Oleh karena itu, angka resmi BMKG tidak keliru, namun sering disalahpahami sebagai batas atas oleh masyarakat.
"Karena itu angka peringatan resmi BMKG sebenarnya tidak keliru, tetapi mudah disalahpahami oleh orang awam/nelayan, sebagai batas atas," tambahnya.
Periode gelombang juga diperpanjang sejak Kamis (6/8/2026), menandakan datangnya alun dari Samudra Hindia bagian selatan yang membawa energi gelombang puncak mencapai 99 persen.
Data menunjukkan energi gelombang berasal dari alun, bukan angin lokal, dengan periode puncak 21 detik dan panjang gelombang sampai 687 meter di laut dalam.
Widodo juga mengaitkan gelombang tinggi dengan kerusakan perahu nelayan. Gelombang yang mencapai 5,09 meter saat pecah melebihi dimensi lambung perahu motor tempel 1-3 GT, dan jangkauan sapuan air sampai 3,86 meter di atas muka laut, melewati elevasi tempat perahu diparkir.
Analisis di wilayah yang lebih luas mengungkap gelombang tinggi terjadi hampir bersamaan dari Ujung Kulon hingga Nusa Penida, dengan perbedaan waktu puncak sekitar enam jam dari barat ke timur.
Sepanjang 1 Juli hingga 20 Agustus 2026, tercatat enam episode gelombang tinggi di perairan Baron dengan interval tiga hingga sepuluh hari.
Widodo mengingatkan nelayan untuk memantau peringatan BMKG dan merekomendasikan tiga langkah peringatan untuk keselamatan kapal nelayan.
"Pertama, menyajikan angka gelombang maksimum selain angka tinggi gelombang signifikan yang biasanya disajikan selama ini," ujar Widodo.
Langkah kedua adalah menggunakan periode gelombang di atas 13 detik sebagai pemicu siaga tersendiri. Terakhir, BMKG disarankan menetapkan garis aman penambatan perahu pada elevasi minimal 4,9 meter di atas muka laut rata-rata atau mundur 65 meter dari garis air surut.
"Untuk hal ini perlu dilakukan pengamatan, pengukuran dan riset lebih detil," tutup Widodo.
Sebelumnya, BMKG telah memperingatkan potensi gelombang tinggi 2,5-4 meter di perairan selatan DIY dengan potensi berulang hingga September, sesuai puncak musim alun Samudra Hindia yang diperkirakan berlangsung Juni hingga September.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow