Kemenkes Ungkap Dampak Kesehatan Karhutla di NTT dan Kalimantan
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat dampak kesehatan serius akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) serta sejumlah provinsi di Sumatera dan Kalimantan. Data terbaru menunjukkan sekitar 3,4 juta warga terdampak tersebar di tujuh provinsi, termasuk Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan beberapa wilayah Kalimantan.
Meskipun belum ada korban meninggal yang dilaporkan akibat kondisi kesehatan terkait karhutla, terdapat dua pasien dengan luka berat yang dirawat inap dan 42 orang mengalami luka ringan. Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) meningkat signifikan, terutama di Kalimantan Tengah dengan sekitar 3.000 kasus selama periode 10-16 Agustus 2026, termasuk 41 pasien yang memerlukan rawat inap.
Provinsi Kalimantan Barat juga mengalami lonjakan kasus ISPA dengan total mencapai 165.747 kasus sejak awal tahun hingga 7 Agustus 2026. Data serupa tercatat di Kalimantan Selatan dan Riau, yang memperlihatkan tren peningkatan penyakit pernapasan akibat kualitas udara yang memburuk.
Kualitas udara di beberapa daerah terdampak masuk dalam kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Kondisi ini meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, balita, dan lansia. Untuk menanggulangi dampak tersebut, Kemenkes telah menurunkan 321 tenaga kesehatan cadangan, termasuk dokter, perawat, bidan, hingga tenaga epidemiologi dan kesehatan masyarakat, ke wilayah terdampak.
Pemerintah juga menyalurkan logistik kesehatan berupa masker, oksigen konsentrator, tabung oksigen, alat pelindung diri, serta perlengkapan pertolongan pertama. Pemberian makanan tambahan juga difokuskan kepada kelompok rentan untuk memperkuat kondisi kesehatan mereka selama masa darurat.
Selain ISPA, kasus gigitan hewan penular rabies tercatat di Kabupaten Nagekeo, Kepulauan Flores, dengan 35 kasus yang seluruhnya sudah mendapat vaksinasi. Total kasus ISPA di tujuh kabupaten Kepulauan Flores mencapai 9.668 kasus.
Kemenkes mendirikan rumah sakit lapangan di Aeramo, Kabupaten Nagekeo, dan RSUD Ruteng di Kabupaten Manggarai untuk memperluas layanan kesehatan. Rumah sakit lapangan di Aeramo juga telah melakukan tindakan operasi terhadap delapan pasien, sementara di Kabupaten Manggarai Timur terdapat lima pasien yang ditangani operasi.
Secara keseluruhan, hingga 25 Agustus 2026 pukul 16.00 WIB, tercatat 78 pasien dalam perawatan dengan rincian 55 pasien dalam kondisi kuning, 11 pasien kondisi hijau, dan satu pasien meninggal dunia. Penanganan ini terus dimaksimalkan untuk mengurangi dampak kesehatan akibat kebakaran hutan di wilayah tersebut, seperti dikutip dari Bloombergtechnoz.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow