Pasar Global dan Asia Hadapi Data Ekonomi Penting Minggu Ini

Smallest Font
Largest Font

Pasar global dan Asia akan menghadapi pekan yang padat dengan sejumlah agenda ekonomi penting yang berpotensi memengaruhi arah suku bunga, nilai tukar, obligasi, dan harga komoditas, dilansir dari Bloombergtechnoz.

Investor akan mencermati data inflasi dari Amerika Serikat, China, dan India, serta keputusan suku bunga Reserve Bank of Australia dan data pertumbuhan ekonomi Inggris.

Dari Amerika Serikat, data Indeks Harga Konsumen (CPI) untuk Juli yang akan dirilis pada Rabu (12/8) menjadi fokus utama karena dapat menunjukkan kelanjutan tren disinflasi dan memberikan petunjuk arah kebijakan Federal Reserve.

Selain CPI, investor juga akan memperhatikan data Produksi Barang (PPI), penjualan ritel, klaim pengangguran, serta komentar pejabat The Fed.

Di Asia, perhatian tertuju pada China yang akan merilis data CPI, PPI, dan pembiayaan sosial agregat. Bloomberg Economics memperkirakan CPI China melambat menjadi 0,9% secara tahunan pada Juli dari 1%, sementara PPI diperkirakan tetap deflasi pada -4%.

Bloomberg Economics menyebutkan, "Kami memperkirakan pertumbuhan secara tahunan akan melanjutkan tren penurunannya. Lambatnya penyaluran dana fiskal dan lemahnya permintaan sektor swasta kemungkinan terus membebani pertumbuhan kredit. Secara struktural, meningkatnya ketergantungan ekonomi China pada industri berorientasi teknologi yang relatif membutuhkan lebih sedikit kredit juga menekan ekspansi kredit."

Penurunan harga tersebut mencerminkan lemahnya permintaan domestik dan kelebihan kapasitas industri. Pertumbuhan kredit juga diperkirakan melambat dengan tambahan pembiayaan sosial hanya sekitar 810 miliar yuan pada Juli, jauh di bawah 3,4 triliun yuan pada Juni.

Sementara itu, India diperkirakan menunjukkan perkembangan positif dari sisi inflasi. CPI Juli diproyeksikan turun menjadi 4,3% dari 4,4% seiring meredanya tekanan pasokan dan membaiknya kondisi monsun. Namun, defisit perdagangan diperkirakan melebar menjadi US$31,9 miliar dari US$30,4 miliar.

Untuk pasar Indonesia, perkembangan inflasi AS menjadi perhatian utama karena dapat mengubah ekspektasi kebijakan The Fed dan memengaruhi dolar AS, arus modal, rupiah, serta imbal hasil obligasi domestik.

Harga minyak juga menjadi perhatian karena eskalasi konflik di Iran berpotensi meningkatkan tekanan inflasi impor dan membebani neraca eksternal serta fiskal.

Perlambatan ekonomi China yang tercermin dari lemahnya harga produsen, permintaan domestik, dan pertumbuhan kredit, berpotensi memengaruhi permintaan komoditas ekspor Indonesia.

Selain itu, data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia yang sempat melemah namun masih berada di zona optimis juga menjadi perhatian pelaku pasar. IKK Indonesia tercatat di level 120,9 pada Mei dan turun menjadi 117,8 pada Juni.

Follow pdamtirtasukapura.co.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow