PT Timah Alami Kehabisan Kuota Produksi RKAB 2026 di Belitung
PT Timah (Persero) Tbk mengalami kehabisan kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 untuk tambang di Pulau Belitung, Kepulauan Bangka Belitung, dilansir dari Bloombergtechnoz.
Ketua Komisi XII DPR Bambang Patijaya menyatakan TINS kini menyerap bijih timah yang diproduksi oleh tambang rakyat di Belitung sambil menunggu revisi RKAB yang diperkirakan memakan waktu 6-7 bulan.
"Itu kan PT Timah itu RKAB-nya sudah habis. Jadi harus di-update, harus dilakukan penyesuaian. Namun, di dalam penyesuaian RKAB PT Timah itu ternyata ada administrasi yang harus dilengkapi antara lain misalkan data cadangan dan sebagainya," ujar Bambang saat ditemui pada acara peluncuran buku Bahlil Lahadalia, Jumat (7/8/2026).
Ia menambahkan, "Menyesuaikan itu kan perlu lama, perlu minimal tuh 6-7 bulan, sehingga daripada kekosongan ini kan produksi masyarakat harus ada yang membeli toh."
Bambang juga menyebut akan ada Peraturan Presiden yang mengatur penyerapan timah dari tambang rakyat. Saat ini pembelian bijih timah mengacu pada harga yang diajukan oleh PT Timah, dan ke depan akan memakai formula Harga Patokan Mineral (HPM).
"Kalau sekarang ini kan harga yang dipakai itu kan harga yang ditetapkan oleh PT Timah, tetapi kami ada menginisiasi yang namanya HPM. Cuma itu lagi dalam pembahasan kabarnya sudah sampai di BPKP untuk mengevaluasi dan mengasesmen," tambahnya.
"Nanti kalau sudah telaah dan asesmen dari BPKP sudah ada, itu bisa segera ditetapkan oleh Kementerian ESDM," tegas Bambang.
Sepanjang semester I-2026, PT Timah memproduksi 12.232 ton Sn bijih timah, naik 75% dibanding periode sama tahun sebelumnya. Produksi logam timah juga meningkat menjadi 10.865 metrik ton dengan penjualan mencapai 10.984 metrik ton.
Peningkatan ini didukung optimalisasi produktivitas dan penambahan unit operasi, termasuk Kapal Isap Produksi, Ponton Isap Produksi, dan tambang darat kemitraan. Perseroan juga memperkuat eksplorasi, pengolahan, dan pengawasan izin usaha pertambangan.
Direktur Produksi & Komersial PT Timah, Ilhamsyah Mahendra, mengungkapkan sumber daya timah saat ini sekitar 800.000 ton dengan cadangan 300.000 ton yang mampu bertahan 10-15 tahun.
"Saya pikir angka-angka tersebut hanya cukup untuk 10-15 tahun. Kami membutuhkan jauh lebih banyak deposit untuk 100 tahun ke depan," ujar Ilhamsyah pada Indonesia Critical Mineral Conference, Rabu (3/6/2026).
Ilhamsyah menyebut eksplorasi sedang digencarkan dengan teknologi sistem informasi geografis dan grain counting untuk mempercepat dan meningkatkan akurasi.
Selain itu, perbaikan produktivitas tambang dan penggunaan teknologi baru di pabrik pengolahan memungkinkan pengolahan bijih berkadar rendah lebih efisien energi dan waktu.
"Jadi, hal itu dapat menjaga daya saing kami di pasar. Dan juga, untuk aspek keberlanjutan, saya rasa kami mengadopsi banyak aspek dalam Responsible Mineral Initiative [RMI]. Selain itu, kami secara konsisten melaporkan kepada GRI terkait transparansi aktivitas sosial dan ESG kami," ujar Ilhamsyah.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow