PT Vale Indonesia Jajaki Kerja Sama Pengembangan Tambang Nikel Tanamalia
PT Vale Indonesia Tbk menjajaki kerja sama pengembangan tambang nikel baru di Blok Tanamalia, Sorowako, Sulawesi Selatan, dengan mitra perusahaan otomotif asal Eropa, dilansir dari Bloombergtechnoz.
Proyek ini akan terintegrasi dengan pembangunan smelter hidrometalurgi berbasis teknologi high pressure acid leach (HPAL) yang menggunakan bijih nikel limonit. Studi kelayakan dan aspek teknis, operasional, legal, serta aspek environmental, social, and governance (ESG) tengah dalam tahap front end loading (FEL) II.
Direktur dan Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer Vale Indonesia Budiawansyah menyatakan, "Ini masa depan dan sedang mulai dirintis. Itu kerja sama di Blok Tanamalia. Ini sangat istimewa karena mitra kita, salah satunya adalah pabrikan kendaraan terkemuka dari Eropa."
Blok Tanamalia merupakan bagian dari izin usaha pertambangan khusus (IUPK) Vale Indonesia dengan luas 13.556 hektare, termasuk subblok Loeha, Lemo-Lemo, dan Lingkona. Wilayah ini juga memiliki izin eksplorasi lanjutan seluas 17.239 hektare di kawasan hutan Sorowako.
Jika kandungan nikel memadai, konstruksi akan dimulai pada 2027-2028 dan penambangan dapat dimulai paling cepat pada 2031.
Head of Studies and Exploration Vale Indonesia Tyas Agustinus Rabudianto mengungkapkan posisi cadangan nikel per 31 Desember 2025 mencapai 1,18 miliar ton basah atau setara 664 juta ton kering, yang dapat ditambang selama 20 tahun.
Tyas menambahkan, "Setidaknya 20 tahun. Untuk yang kita yang cadangan itu kita masih punya resource yang belum kita pakai. Satu setengah kali yang di sekarang.
Kalau dijumlahkan bisa total 50-an tahun." Sumber daya nikel diperkirakan mencapai 1,67 miliar ton basah atau setara 1 miliar ton kering.
Vale mengalokasikan sekitar 2% pendapatan atau sekitar US$15–16 juta per tahun untuk eksplorasi, dengan potensi peningkatan dana jika diperlukan, demi menjaga dan meningkatkan cadangan nikel.
Pabrikan otomotif asal Jerman, Volkswagen AG, sebelumnya menunjukkan minat untuk berkolaborasi dengan Vale Indonesia dalam ekosistem baterai kendaraan listrik. Associate Energy Analyst Kementerian ESDM Fitria Astuti Firman menyatakan, pemerintah menyusun standar ESG nasional agar produk mineral Indonesia dapat terserap rantai pasok global dengan ketentuan ESG ketat.
Fitria mengatakan, "Langkah ini krusial agar produk mineral Indonesia dapat diserap oleh rantai pasok global. Contoh sukses penerapan ini adalah kerja sama PT Vale dengan raksasa otomotif dunia seperti Ford dan Volkswagen, yang mewajibkan kepatuhan ESG berstandar global."
Bahlil Lahadalia, mantan Menteri Investasi/Kepala BKPM, juga mengonfirmasi minat Volkswagen dalam membangun industri baterai kendaraan listrik di Indonesia. "VW akan bekerja sama dengan beberapa perusahaan nasional dan asing. Kami siap mengawal agar rencana investasinya segera terealisasi," ujarnya.
Selain itu, proyek Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa menjadi proyek terbesar Vale dengan nilai investasi US$4,5 miliar bersama Ford dan Huayou, dengan progres konstruksi pabrik HPAL mencapai 65% dan sektor tambang 72%, yang menyerap lebih dari 5.000 tenaga kerja dan direncanakan berproduksi Agustus 2026.
Proyek smelter IGP Morowali juga telah memasuki tahap operasional, dengan pembangunan pabrik HPAL hasil kemitraan bersama GEM dan EcoPro yang mencapai 27% progres dan target operasional tahun ini dengan investasi total US$2 miliar.
Di Sulawesi Selatan, proyek IGP Sorowako Limonite oleh Vale dan Huayou tengah dikembangkan di Blok Sorowako seluas 70.566 hektare. Pembangunan tambang mencapai 42% dan pabrik HPAL 18%, dengan kapasitas produksi 60.000 ton mixed hydroxide precipitate (MHP) per tahun yang ditargetkan operasional penuh tahun 2027.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow