Bank Indonesia Laporkan Pembiayaan Perbankan Syariah Tumbuh Signifikan Hingga Juni 2026
Bank Indonesia melaporkan pembiayaan perbankan syariah mencapai Rp720 triliun hingga Juni 2026 dengan pertumbuhan tahunan 11,43%, didukung oleh kinerja industri yang terus meningkat, dilansir dari Bloombergtechnoz.
Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyebutkan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan syariah tercatat Rp816 triliun, tumbuh 13,13% secara tahunan. Selain itu, rantai pasok halal tumbuh sebesar 5,5% dan outstanding sukuk korporasi sekitar Rp95 triliun pada periode yang sama.
Menurut Destry, perkembangan ini membuka peluang lebih besar bagi pembiayaan syariah untuk mendukung investasi produktif dan ekspansi sektor riil.
"Perkembangan tersebut membuka ruang yang semakin besar bagi pembiayaan syariah untuk mendukung investasi produktif dan ekspansi sektor riil," ujar Destry dalam Forum Strategis Pembiayaan Syariah untuk Ekspansi Korporasi.
Bank Indonesia dan pemangku kepentingan terus memperkuat sinergi melalui program Bulan Pembiayaan Syariah dan Percepatan Intermediasi Indonesia untuk memperluas akses pembiayaan syariah dan mempercepat realisasi pembiayaan ke sektor riil.
Penguatan konektivitas antara industri halal dan keuangan syariah dianggap kunci untuk memperluas akses pembiayaan korporasi, mendukung usaha yang kompetitif, inovatif, dan berkelanjutan.
Dalam kegiatan tersebut, BI menggelar business matching yang mempertemukan 20 Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah dengan 51 korporasi guna menjajaki solusi pembiayaan sesuai kebutuhan usaha. Acara ini didukung oleh OJK, Kementerian Perindustrian, BKPM, Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah, Asbisindo, IAEI, dan KADIN.
Destry menegaskan pentingnya pembiayaan syariah sebagai pilihan strategis untuk investasi dan ekspansi korporasi dengan membangun pipeline pembiayaan yang bankable, terukur, dan berkelanjutan.
"Pembiayaan syariah perlu menjadi pilihan strategis dan kompetitif bagi investasi dan ekspansi korporasi. Untuk itu, perlu dibangun pipeline pembiayaan yang bankable, terukur, dan berkelanjutan, diperkuat pendalaman pasar keuangan syariah dan intermediasi, serta kolaborasi antara korporasi, industri keuangan syariah, regulator, kementerian/lembaga, dan asosiasi," ujar Destry.
Destry juga menekankan pentingnya memperluas kapasitas dan inovasi instrumen pembiayaan serta penguatan tata kelola, manajemen risiko, dan pemantauan untuk memperkuat pembiayaan korporasi.
Kepala Badan Ekonomi Syariah KADIN Indonesia, Titi Khoiriah, mengingatkan pentingnya pembiayaan syariah jangka panjang dengan skema dan tenor yang sesuai untuk mendukung ekspansi korporasi.
Ketua Hubungan Bisnis Asbisindo sekaligus Wakil Direktur Utama Bank Syariah Indonesia, Bob Tyasika Ananta, menggarisbawahi pendekatan berbasis ekosistem yang menghubungkan korporasi dengan rantai pasok, memungkinkan perbankan syariah memperluas pembiayaan modal kerja sekaligus membangun relasi jangka panjang dengan dunia usaha.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow