BGN Wajibkan Label Batas Waktu Konsumsi pada Makanan MBG di Sekolah
Badan Gizi Nasional (BGN) mulai pekan depan mewajibkan setiap ompreng atau wadah makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mencantumkan batas waktu konsumsi demi memperkuat keamanan pangan di sekolah, dilansir dari Detik Health.
Kepala BGN, Sudaryono atau Mas Dar, menjelaskan bahwa informasi batas waktu konsumsi menjadi penanda penting bagi guru dan siswa agar makanan dikonsumsi dalam kondisi aman. Kebijakan ini bertujuan memastikan makanan yang tidak menggunakan pengawet tetap segar saat disantap.
Dia menegaskan bahwa makanan MBG yang telah matang maksimal dikonsumsi dalam waktu empat jam, karena tanpa bahan pengawet dan dibuat segar. Oleh sebab itu, terdapat batas waktu atau "window" untuk memastikan makanan tetap aman dikonsumsi.
"Mulai minggu depan ini, kami akan memberlakukan kewajiban untuk menuliskan di setiap ompreng ada tanda atau peringatan harus dikonsumsi sebelum jam berapa," ujar Sudaryono dalam rapat koordinasi bersama Kemendikdasmen secara daring pada Sabtu (8/8).
Sudaryono juga meminta guru memastikan makanan tidak dikonsumsi jika telah melewati batas waktu yang tercantum pada wadah. Larangan ini berlaku untuk guru maupun siswa.
"Kalau jam di dalam ompreng sudah melebihi jam yang tertera, kami minta tidak dikonsumsi. Bapak, ibu guru tidak boleh mengonsumsi, apalagi peserta didiknya," tegasnya.
Selain itu, Sudaryono mengimbau siswa agar tidak membawa pulang makanan MBG. Makanan harus langsung dikonsumsi di sekolah sesuai waktu yang ditentukan demi menghindari risiko keamanan pangan jika disimpan dan dikonsumsi kembali di rumah.
"Kami mohon sesuai petunjuk teknis, (MBG) sebaiknya tidak dibawa pulang. Pastikan dimakan di kelas pada jam yang diperbolehkan," ujarnya.
Imbauan ini terkait dengan kasus keracunan yang terjadi di beberapa titik akibat makanan MBG yang dibawa pulang dan dikonsumsi kembali. Kasus keracunan tidak hanya dialami siswa, tetapi juga orang tua yang mengonsumsi makanan tersebut di rumah.
"Saya juga kemarin di satu SD di Bogor yang saya datangi, ada kasus keracunan yang melibatkan siswa dan orang tua karena makanan yang dibawa pulang," pungkas Sudaryono.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow