Peneliti Temukan Darah Manusia sebagai Bahan Pengikat Lukisan Cadas di China
Analisis terbaru mengungkap darah manusia digunakan sebagai bahan pengikat dalam lukisan cadas berusia sekitar 2.000 tahun di kawasan Zuojiang Huashan Rock Art Cultural Landscape, China, yang dibuat oleh masyarakat kebudayaan Luoyue. Penemuan ini diungkap setelah para peneliti mendapati jenis protein dalam bahan pengikat yang biasanya meningkat pada perempuan hamil tua atau menyusui. Lukisan ini tetap terjaga meski berada di permukaan tebing batu kapur terbuka di iklim subtropis dengan curah hujan tinggi selama ribuan tahun, dilansir dari Detik iNET.
Para ilmuwan menemukan pigmen merah berasal dari tanah liat lokal kaya oksida besi, sedangkan darah berfungsi sebagai bahan pengikat yang membantu pigmen melekat kuat pada batu. Pembuatannya melibatkan proses pemanasan bahan seperti tulang hewan dan batu kapur, lalu ditambahkan air dan darah membentuk mortar cair yang diaplikasikan ke batu dan dilapisi pigmen merah.
Proses kimiawi biomineralisasi pada kalsium karbonat yang dibantu protein darah membuat ikatan tersebut menyerupai batu kapur alami sehingga pigmen terperangkap kuat pada permukaan tebing. Para peneliti menyebutnya sistem ikatan komposit organik-anorganik yang stabil.
"Tidak ada bahan pengikat organik alami yang dapat bertahan selama itu dalam kondisi lembap seperti ini," kata para peneliti. Mereka juga menyatakan, "Sistem ikatan komposit organik-anorganik yang stabil ini mengungkap proses teknologi kompleks yang digunakan para pembuatnya dan menjelaskan mengapa seni cadas Huashan dapat bertahan dengan sangat baik dalam kondisi yang menantang selama lebih dari dua milenium." Analisis protein dalam bahan pengikat menunjukkan kandungan darah manusia mencapai 97-99% di beberapa lokasi. Protein prolactin-inducible dan lactotransferrin yang ditemukan biasanya meningkat drastis pada perempuan hamil tua atau menyusui, mendukung hipotesis darah berasal dari perempuan yang baru melahirkan.
Gambar pada tebing Huashan menampilkan tema reproduksi seperti perempuan hamil, hubungan seksual, dan alat kelamin laki-laki, yang diduga berkaitan dengan kultus kesuburan masyarakat Luoyue. Temuan ini menunjukkan kemampuan teknologi rumit masyarakat kuno dalam membuat lukisan cadas yang mampu bertahan menghadapi hujan monsun selama lebih dari 2.000 tahun, bukan hanya karena pigmen merah, tetapi juga bahan pengikat darah dan proses kimia yang kompleks.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow