IESR Dorong Pembangunan Pabrik BESS Dukung Proyek PLTS 100 GW
Institute for Essential Services Reform (IESR) menegaskan perlunya percepatan pembangunan pabrik sistem penyimpanan energi baterai (BESS) di Indonesia guna mendukung proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebesar 100 GW, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.
Direktur Eksekutif IESR, Fabby Tumiwa, mengatakan bahwa penggunaan BESS penting karena PLTS menghasilkan energi yang bersifat intermittent atau tidak tetap tergantung cuaca dan sinar matahari.
"Kita bisa menggunakan strategi seperti kendaraan listrik; boleh impor bahan baku BESS, tetapi pabriknya harus dibangun di Indonesia," ujar Fabby dalam media briefing pada Kamis (6/8/2026).
Fabby menjelaskan bahwa BESS memungkinkan penyimpanan daya listrik siang hari dari PLTS atap rumah yang kemudian bisa disalurkan kembali oleh PLN saat beban puncak di sore atau malam hari.
"PLN dapat memfokuskan anggarannya pada pengembangan jaringan transmisi dan distribusi yang sangat vital bagi keberhasilan target 100 GW, sementara sektor pembangkit dan BESS dapat didukung oleh industri," tambah Fabby.
Menurut Fabby, saat ini alokasi BESS dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN baru mencapai sekitar 4,6 GW, sehingga penetapan target dan regulasi yang jelas sangat diperlukan agar industri BESS dalam negeri dapat berkembang pesat.
Pengembangan industri BESS didukung oleh lokalisasi industri yang memenuhi aturan tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Salah satu contoh adalah pembukaan pabrik baterai baru oleh perusahaan baterai global di Jawa Barat dengan kapasitas pasokan hingga 2,2 gigawatt-hour (GWh) untuk mendukung megaproyek Vanda Solar & Battery.
Konsorsium BUMN, termasuk Indonesia Battery Corporation (IBC) dan PLN, berkolaborasi dengan mitra global membangun ekosistem dan fasilitas BESS melalui perusahaan patungan PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB).
Presiden RI Prabowo Subianto menargetkan pembangunan PLTS 100 GW dalam waktu dua tahun, dan mengonfirmasi kesanggupan jajaran menteri Kabinet Merah Putih pada Juli 2026.
"Bagaimana nanti kalau kita akan bangun 100 GW tenaga surya tahun ini, PLN akan mulai dengan 17 GW tahun ini, 100 GW dalam 2 tahun bisa? Pak Rosan? Pak Menko?" tanya Prabowo kepada para menteri.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menjawab, "Siap, laksanakan."
Prabowo menyadari target tersebut akan mendapat kritik dari para pakar yang menganggapnya terlalu ambisius.
"Aku tidak tanya laksankan, bisa enggak? Kita akan dihujat, pakar-pakar yang pintar akan bilang: mana mungkin. Saya kasih tahu siap-siap kita akan dihujat pakar-pakar yang pintar-pintar itu," katanya.
Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Perencanaan Strategis, Jisman P Hutajulu, menyatakan pemerintah menargetkan pembangunan tahap pertama PLTS sebesar 17 GW dan membuka peluang investasi bagi pengusaha muda.
"Komitmen pemerintah menuju pemerataan energi terbarukan di tempat terpencil. Mulai dari pengembangan PLTS 100 GW. Pak Rizal kita sudah sampaikan, tahap awal adalah 17 GW," ujar Jisman.
Jisman menilai teknologi PLTS tidak terlalu kompleks sehingga target 17 GW tahap pertama dapat dicapai.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow