Investor Asing Alihkan Dana ke Saham Bank Besar di Tengah Tekanan IHSG

Smallest Font
Largest Font

Investor asing mengalihkan dana mereka ke saham bank berkapitalisasi besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) di tengah tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Pada perdagangan Kamis (13/8/2026), IHSG turun 1,13% ke level 6.301 dengan net sell asing sekitar Rp1,4 triliun. Tekanan utama berasal dari saham PT Chandra Asri Pacific Tbk, PT Petrosea Tbk, dan PT Barito Pacific Tbk, namun saham bank besar justru diburu investor asing.

Senior Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan, "Rotasi asing ke big banks berlanjut, tercermin dari net buy pada BBCA, BBRI, dan BBNI." Pola ini sudah terlihat beberapa pekan terakhir setelah tekanan jual di pasar saham bergeser ke saham bank dengan kapitalisasi besar dan likuiditas tinggi.

Rully menambahkan bahwa BBCA mencatat akumulasi net buy asing sekitar Rp600 miliar pada pekan 6-10 Juli, bagian dari pembelian asing sejak awal Juli. Harga saham BBCA juga menguat dari kisaran Rp6.000 ke Rp6.400 pertengahan Juli, sementara BBRI dan BBNI juga menguat meski masih ada volatilitas pasar.

Kinerja bank besar tetap terjaga pada semester I 2026. Bank Mandiri membukukan laba bersih Rp30,4 triliun, tumbuh 24,4% secara tahunan dengan kredit tumbuh 19,9%. BBCA mencatat laba bersih Rp29,5 triliun, naik 1,8%, dan penyaluran kredit Rp1.036 triliun, tumbuh 8%. BBRI dan BBNI juga mencatat pertumbuhan laba.

Rully mengatakan, "Rupiah stagnan di Rp17.870 per dolar AS meski DXY turun ke bawah 100, mengindikasikan faktor domestik masih membatasi apresiasi. Kami melihat kondisi global membaik, tetapi keberlanjutan foreign selling dan rupiah tetap menjadi faktor pembatas IHSG." Faktor domestik menjadi penghambat penguatan pasar saham Indonesia meskipun sentimen global mulai mendukung.

Samuel Sekuritas Indonesia mencatat bahwa perubahan komposisi indeks MSCI dengan satu downgrade dan 10 saham yang dikeluarkan dapat memicu arus dana keluar sekitar US$251 juta hingga US$289 juta (Rp4,5 triliun-Rp5,2 triliun), meningkatkan kecemasan investor.

Samuel Sekuritas menyebutkan, "Hal ini, ditambah dengan kecemasan pasar mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya, mendorong investor untuk mengambil sikap wait and see." Meski IHSG terkoreksi sekitar 28% secara year to date, penurunan indeks belum sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental perusahaan.

Berdasarkan kajian Samuel terhadap 10 saham kapitalisasi terbesar di sektor masing-masing, penurunan pertumbuhan laba hanya terjadi di sektor rumah sakit dan consumer-related, sementara sektor lainnya masih tumbuh. "Di tengah tahun yang penuh tantangan dan keraguan terhadap pasar, kami hanya melihat penurunan pertumbuhan laba pada dua sektor. Sektor lainnya masih mencatatkan pertumbuhan," lanjut riset Samuel Sekuritas.

Follow pdamtirtasukapura.co.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed