IHSG Turun 1,13 Persen Didukung Penurunan Saham Mayoritas dan Net Sell Asing

Smallest Font
Largest Font

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berakhir di zona merah pada Kamis (13/8), turun 1,13% ke level 6.301,77, dilansir dari Detik Finance.

Penurunan ini terjadi meski saham BBCA naik 0,39%, MPRO menguat 4,35%, dan BBNI bertambah 0,84%. Namun tekanan datang dari saham AMMN turun 3,43%, BRPT melemah 4,36%, dan BREN turun 2,40%.

Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp1,39 triliun di pasar reguler dan Rp1,41 triliun jika dihitung seluruh pasar. Sebanyak 11 sektor saham berakhir melemah, dengan sektor Basic Materials turun 2,93%.

Bursa domestik bergerak di tengah penguatan pasar saham Amerika Serikat, dengan Dow Jones naik 0,13%, S&P 500 menguat 0,65%, dan Nasdaq bertambah 0,81%.

Pelaku pasar masih mencermati dampak aksi jual asing setelah 10 emiten Indonesia dikeluarkan dari indeks MSCI, yang terdiri dari satu emiten Global Standard dan sembilan emiten Small Cap. Penurunan ini tercermin pada ETF EIDO turun 1,65% dan MSCI Indonesia turun 0,33%.

PT Ekadharma International Tbk (EKAD) berpotensi mengalami perubahan pengendali setelah penandatanganan Letter of Intent antara pemegang saham mayoritas PT Ekadharma Inti Perkasa (EIP) dan Fujian Youyi Adhesive Tape Group Co., Ltd. dari China.

"Fujian Youyi menargetkan pembelian 51% saham EKAD atau sekitar 1,78 miliar saham," ujar manajemen EKAD.

Meski LoI sudah ditandatangani, EKAD menyatakan kesepakatan belum mempengaruhi operasional, aspek hukum, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha. Nilai transaksi dan waktu penyelesaian akuisisi belum diumumkan.

PT Elnusa Tbk (ELSA) terus mengembangkan layanan Geoscience & Reservoir Services (GRS) dengan berbagai teknologi akuisisi data seperti seismic, wireless/nodal, Vibroseis, dan Ocean Bottom Nodes (OBN).

"Kami memiliki lebih dari 100 set peralatan surveying dan fasilitas supply chain terintegrasi seluas 4.505 meter persegi," ujar pihak ELSA.

Saham ELSA diperdagangkan dalam rentang Rp665-Rp715.

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) melanjutkan pengembangan tiga proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) dalam Indonesia Growth Project (IGP). Proyek Pomalaa hampir selesai dengan progres mendekati 100% dan mechanical completion, kapasitas produksi 120.000 ton Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) per tahun dengan investasi US$3,40 miliar, ditargetkan selesai Desember 2026.

Proyek Bahodopi dengan investasi US$1,40 miliar dan kapasitas 66.000 ton MHP per tahun ditargetkan mechanical completion Maret 2027, sedangkan proyek Sorowako senilai US$1,40 miliar dan kapasitas 60.000 ton MHP dijadwalkan pada 2027-2028.

"Pengembangan HPAL membuka ruang bagi INCO mengolah cadangan limonit dan memperluas produk bahan baku baterai," ujar manajemen INCO.

Kontribusi keuangan diharapkan lebih terasa setelah fasilitas memasuki tahap ramp-up dan utilisasi komersial.

Follow pdamtirtasukapura.co.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow